Hari Minggu Prapaskah III, 24 Februari 2008
Pendalaman Kitab Suci No.1 Januari-Februari 2008
Beberapa tempat menjadi favorit banyak orang untuk dikunjungi. Zaman dulu salah satunya adalah pasar. Orang mau tidak mau mesti pergi ke pasar karena di situlah dapat diperoleh aneka macam kebutuhan hidup, dari alat-alat rumah tangga sampai sayur-sayuran. Sekarang orang (menyebut diri) modern mungkin malas pergi ke pasar, tapi toh mereka berduyun-duyun mendatangi mal dan supermarket, yang hakikatnya adalah pasar juga. Tempat lain yang pada masa lalu masuk daftar ”wajib kunjung” adalah sumur. Air adalah kebutuhan dasar bagi hidup manusia, juga hewan-hewan ternak. Dulu orang dapat memperoleh air secara cuma-cuma dibeberapa lokasi, misalnya di mata air, sungai, dan tentu saja sumur.
Di pasar orang tidak hanya membeli barang, begitu pula di sumur orang tidak hanya mendapat air. Karena terjadi perjumpaan dengan orang lain, mereka juga menyempatkan diri untuk saling bercerita, bertukar pengalaman dan informasi. Perbincangan mereka itu bisa jadi banyak yang tidak penting. Jangan-jangan tempat itu malah menjadi sumber kabar burung atau gosip yang tidak jelas kebenarannya. Tapi, perjumpaan dengan orang lain kadang membawa makna yang sangat besar, bahkan mungkin bisa mengubah hidup kita. Begitulah pengalaman seorang perempuan Samaria yagn bertemu Yesus di sebuah sumur.
Yohanes 4:5-15, 19b-26-39a,40-42
5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."
8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
19b "Tuan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami."
26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."
39a Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu,
40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya.
41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya,
42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia."
Struktur Teks
Bacaan kita pada hari Minggu Prapaskah III ini aslinya lebih panjang, yaitu Yoh. 4:5-42. Kali ini yang akan kita dalami adalah versi singkat yang dianjurkan. Versi singkat ini terutama menghilangkan percakapan antara Yesus dan murid-muridNya (ay. 27-38).
Perikop Yoh. 4:5-14, 19b-26,39a,40-42 dapat kita bagi sebagai berikut:
■ Ay. 5-7a = Dalam perjalanan dari Yerusalem ke Galilea, Yesus dan murid- muridNya melalui Samaria, wilayah kurang bersahabat dengan orang-orang Yahudi.
■ Ay. 7b-15 = Percakapan dengan perempuan Samaria tentang air hidup.
■ Ay. 19b-26 = Percakapan dengan perempuan Samaria tentang ibadat yang benar.
■ Ay. 39a, 40-42 = Percakapan dengan orang-orang Samaria. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia.
Ulasan Teks
Yesus di Samaria
Penginjil Yohanes sangat pintar menyusun kisah-kisah teologis yang maknanya sangat mendalam, seperti kisah perjumpaan di sumur Yakup ini. Harus diakui bahwa kisah ini mengundang banyak tafsiran. Kami disini menyajikan salah satu – bukan satu-satunya – tafsiran itu.
Pertama-tama penulis mempersiapkan panggung bagi kisahnya ini. Yesus suatu ketika berada di daerah Samaria. Padahal sudah sering kita dengar bahwa orang Yahudi dan orang Samaria tidak rukun satu sama lain. Apa boleh buat, perjalanan yang jauh membuat Yesus letih dan harus beristirahat di situ, di dekat sebuah sumur. Waktu itu kira-kira jam dua belas. Lalu datanglah seorang perempuan Samaria untuk menimba air. Agak aneh, sebab orang biasanya tidak menimba air pada jam-jam begini (panas!). Ditafsirkan bahwa perempuan tersebut memang sengaja tidak ingin bertemu orang lain. Itu karena masyarakat tidak terlalu menyukainya, akibat kehidupan pribadinya yang tidak terlalu positif (lih. Ay. 17-18).
Percakapan tentang air hidup
Para murid yang menyertai Yesus waktu itu sedang ”pergi ke kota membeli makanan” (ay. 8). Maka di sumur itu hanya ada Yesus dan perempuan Samaria tersebut. Percakapan dimulai oleh Yesus yang minta minum kepada si perempuan. Permintaan itu dianggap aneh oleh perempuan itu karena orang Yahudi biasanya tidak mau bergaul dengan orang Samaria. Nah, dari situlah percakapan bergulir dengan penuh kesalahpahaman. Yesus berbicara tentang air dalam arti simbolis, sementara pikiran perempuan itu terus saja tertuju pada air minum! Aneh juga bahwa meskipun konsepnya berbeda, mereka terus saja berbicara dan akhirnya dialog itu nyambung dititik yang sama.
Kepada perempuan itu Yesus menawarkan ”air hidup”, yang kalau diminum seseorang akan membuat orang itu tidak haus lagi untuk selama-lamanya. Air ajaibkah yang Yesus maksud? Ternyata bukan. Yang ditawarkan Yesus sebagai ”air hidup” tidak lain adalah roh yang akan diterima oleh orang-orang yang percaya kepadaNya (lih. 7:37-39). ”Air hidup” juga dapat dimengerti sebagai ajaran-ajaran Yesus, atau juga kebenaran firman-firman yang disampaikan oleh Yesus. Demikianlah, roh dan kebenaran akan tinggal dalam hati seorang yang percaya kepada Yesus, seperti ”mata air yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal”. Itulah ”air hidup” yang ditawarkan Yesus pada perempuan Samaria itu.
SUMUR YAKUB
Sumur Yakub terletak di kaki Gunung Gerizim, tidak jauh dari Kota Sikhem. Mulai abad 4 sampai sekarang, sumur ini selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah. Kedalamannya sekitar 32 meter dan kabarnya sumur Yakub tidak pernah mengalami kekeringan. Air selalu tersedia di situ secara melimpah.
Kalau dalam teks Injil Yohanes ini muncul ama Sikhar, mungkin itu adalah nama lain kota Sikhem. Bisa jadi juga penulis injil atau para penyalin salah menulis ejaan Sikhem. Yang dimaksud Shikar memang Sikhem, sebab di situlah Yakub membeli tanah dan memberikannya kepada Yusuf, anaknya (lih. Yos, 24:32; Kej. 48:22). Meskipun demikian, Perjanjian Lama tidak pernah menyebut-nyebut keberadaan sebuah sumur yang bernama sumur Yakub, juga tidak pernah mengisahkan bahwa Yakub pernah menggali sebuah sumur.
Harun, Martin, Memberitakan Injil Kerajaan: ulasan Injil Hari Minggu Tahun A Masa Khusus, Yogyakarta; Kanisius, 2001, hlm 82
Ibadat yang benar
Pembicaraan terus berlanjut. Perempuan itu terkejut, Yesus ternyata mengetahui kehidupan pribadinya (bahwa ia sudah punya lima suami, ay. 17-18). Lansung saja ia percaya bahwa Yesus adalah seorang nabi, sebab hanya nabi yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Maka, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menanyakan masalah yang rumit kepada sang nabi. Masalah yang diungkapkannya memang sangat sensitif: Manakah ibadat yang benar, apakah ibadat orang Samaria atau orang Yahudi? Apakah di Bait Allah Samaria atau di Bait Allah Yerusalem? Masing-masing pihak menganggap diri benar, menyebut yang lain sesat, padahal mereka menyembah Allah yang sama!
Yesus pertama-tama meminta perempuan itu untuk percaya kepadaNya. Menjawab pertanyaannya, Yesus tidak membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain. Bukankah mengherankan bahwa orang (dari dulu sampai sekarang) masih juga ribut soal tempat unutk menyembah Allah? Allah bisa disembah dimana-mana! Bagi Yesus, yang penting adalah manusia menyembah Bapa ”dalam roh dan kebenaran”. Menurut salah satu tafsir, Yesus dengan itu menolak gagasan bahwa keselamatan dapat dimonopoli oleh sekelompok orang. Dia mengharapkan manusia membiarkan diri mereka dituntun oleh ”daya yang datangnya dari Atas. Yang membebaskan, dan mengantar manusia pada hidup abadi”.
Perempuan itu kemudian mengungkapkan imannya akan Mesias. Pengharapan Mesias bagi orang Samaria sebenarnya agak berbeda dengan orang Yahudi. Orang Samaria tentu tidak mengharapkan kedatangan Mesias keturunan Daud. Mesias dalam banyangan mereka adalah nabi baru semacam Musa. Namun, penginjil Yohanes di sini menyamakan pengharapan itu. Tidak heran ia pun menggambarkan perempuan itu percaya ketika Yesus memperkenalkan diriNya sebagai Mesias.
Orang-orang Samaria percaya
Si perempuan lupa bahwa ia datang kesumur itu untuk mengambil air. Sekarang ia sadar mereka tidak sedang berdiskusi soal air minum. Yang ia dapat- ”air hidup” – jelas jauh lebih berharga daripada itu! Perempuan Samaria itu percaya dan mewartakan imannya itu kepada orang lain. Berkat perempuan itu, banyak orang Samaria datang kepada Yesus dan menjadi percaya. Pengakuan mereka menunjukkan iman yang sangat dalam. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia. Dengan itu dinyatakan bahwa keselamatan ilahi bukan milik kelompok tertentu saja.
Keselamatan itu milik seluruh dunia.
Amanat
Kebenaran adalah milik agama saya. Keselamatan kekal adalah hak agama saya. Allah yang benar adalah Allah saya. Manusia paling jago membuat klaim-klaim semacam itu. Buntutnya tentu saja adalah anggapan bahwa orang yang beragama lain itu sesat, kafir, dan paling cocok tinggal di neraka.
Ah, sungguh berlebihan kalau kita berani memastikan orang ini masuk neraka dan orang itu akan masuk surga. Memangnya kita ini siapa?
Dengan beragama, seorang manusia diharapkan semakin mengenal Tuhan, memahami kehendakNya, dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. Pendek kata, agama diharapkan menuntun orang untuk hidup dengan baik. Sayang, menurut catatan seorang pengamat, kaum beragama justru memiliki track record yang buruk dalam hal perlakuan kepada orang lain yang berbeda keyakinan. Tuhan adalah kasih. Tapi, manusia malah mengatasnamakan Tuhan untuk mencelakakan orang lain. Ironis, Tuhan di atas sana pasti menangis saking sedihnya!
Hidup beragama kita perlu diperbarui. Itulah kiranya salah satu pesan yang bisa kita petik dari kisah perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Karena sering dijadikan alat ampuh untuk melakukan kekerasan dan ketidakadilan, menjadi jelas bahwa agama-agama harus mendefiniskan ulang dirinya dan melakukan evaluasi-koreksi-intropeksi. Sebab jangan sampai orang beragama bukannya semakin dekat dengan Allah, tapi malah semakin menjauhiNya. Bagaimana evaluasi-koreksi-intropeksi itu dapat terwujud secara konkret, mari kita pikirkan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar