Jumat, 08 Februari 2008

PETRUS, DENGARKANLAH YESUS

Hari Minggu Prapaskah II, 17 Februari 2008
Pendalaman Kitab Suci No. 1 Januari-Februari 2008


Petrus baru saja dimarahi Yesus (Mat.16:23). Padahal, Yesus sebelumnya memberinya pujian-pujian karena Petrus mengenali Dia sebagai ”Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16-17). Sikap Yesus terhadap muridNya itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat karena Petrus menolak perkataan Yesus bahwa Mesias harus menanggung banyak penderitaan dan dibunuh. Bagi Yesus, itulah jalan menuju kemuliaan, yang meskipun berat, toh akhirnya mengantarkanNya pada kebangkitan. Tapi, Petrus tidak setuju. Mesias, tokoh pembebas bangsa Israel yang kehadirannya sangat dinanti-nantikan itu, menurutnya adalah sosok yang penuh kejayaan. Beda pandangan antara guru dan murid ini sungguh tajam. Petrus menegur Yesus dengan keras dan Yesus tidak mau kalah. Ia memarahi Petrus, bahkan ”menggelarinya” sebagai iblis!

Enam hari berlalu, cukuplah waktunya bagi Petrus untuk merenungkan Mesias macam apakah Yesus itu, termasuk syarat-syarat untuk mengikutiNya, yang ternyata sangat berat (Mat. 16:24-26). Bersama dua murid lain, Petrus kemudian diajak Yesus untuk menyaksikan terjadinya sebuah peristiwa besar (transfigurasi). Celaka, gagasan Petrus ternyata belum banyak berubah.

Lagi-lagi ia salah paham.................

Matius 17:1-9

1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.

2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.

4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."

5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."

6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.

7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"

8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.

9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Struktur Teks

Injil-injil sinoptik mengaitkan kisah perubahan rupa Yesus di atas gunung (disebut peristiwa transfigurasi) dengan pengakuan Petrus dan pemberitahuan Yesus bahwa Mesias harus mengalami penderitaan. Matius (Mat. 17:1-11) dan Lukas (Luk. 9:28-36) agaknya bersumber pada Markus (Mrk. 9:2-9). Mereka mengolah bahan dari Markus itu dan masing-masing memberi kekhasan pada kisah ini. Kisah transfigurasi dalam Injil Lukas berfokus pada Yesus yang membicarakan tujuan perjalananNya ke Yerusalem dengan Musa dan Elia. Sementara itu, kisah dalam Injil Matius lebih menyoroti diri murid-murid Yesus, yang diwakili oleh sikap Petrus.

Mat. 17:1-9 dapat kita bagi sebagai berikut :

Ay. 1 = Yesus dan tiga orang muridNya naik ke gunung yang tinggi

Ay, 2-8 = Hal-hal yang luar biasa di alami oleh para murid: Yesus berubah rupa, kehadiran Musa dan Elisa, serta terdengarnya suara Allah Bapa.

Ay. 9 = Yesus dan tiga orang muridNya turun gunung.

Ulasan Teks

Di sebuah gunung yang tinggi

Seperti telah diketahui, Matius sangat menggemari Perjanjian Lama dan melihat Yesus sebagai penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Maka, Matius yang mengambil kisah transfigurasi dari Injil Markus, kemudian mengolah bahan itu dengan memakai pola kisah-kisah penampakan yang ilahi dalam Perjanjian Lama, dalam hal ini Kel. 24 dan 34. Disini kita dapat menemukan unsur-unsur yang sama, misalnya gunung, enam hari, awan, dan wajah yang bercahaya.

Memulai kisahnya, penginjil memperkenalkan tokoh-tokoh yang tampil dalam perikop ini. Mereka adalah Yesus dan tiga orang muridNya: Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Berempat mereka menaiki sebuah gunung yang tinggi ”enam hari kemudian”, yaitu enam hari setelah Petrus mengakui bahwa Yesus adalah ”Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16). Matius tidak lupa menyatakan bahwa di puncak gunung yang tinggi itu ”mereka sendirian saja”, tidak ada orang lain lagi. Maksudnya adalah untuk menegaskan bahwa yang dialami para murid itu betul-betul sebuah penampakan yang ajaib.

Para murid menyaksikan peristiwa-peristiwa ajaib

Peristiwa ajaib pun terjadilah, dimulai dengan Yesus yang mengalami perubahan rupa. Tiba-tiba saja wajah dan jubahNya berkilau-kilauan. Matius ketka menyusun kisah ini tampaknya teringat pada suatu pengharapan apokaliptik bahwa pada hari akhir nanti ”orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala” (Dan. 12:3). Maka, Yesus pun digambarkannya bercahaya seperti matahari sebagai tanda kemuliaanNya. Keajaiban terus berlanjut dengan kehadiran Musa dan Elia. Mengapa dua orang ini yang hadir menjumpai Yesus? Menurut suatu tafsir, Musa dan elia masing-masing mewakili kesaksian Taurat dan para nabi tentang Yesus. Tafsir lain berpendapat bahwa Musa hadir untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah nabi yang dinubuatkannya sebagai nabi yang ”harus kamu dengarkan” (Ul. 18:15,18). Sementara itu, Elia adalah nabi besar pendahulu Yesus. Diyakini bahwa Elia akan kembali ke dunia menjelang hari Tuhan.

Bagi Matius, yang penting dalam peristiwa ini adalah reaksi para murid, teritama Petrus. Ini karena perikop ini dihubungkan dengan pengakuan Petrus (bahwa Yesus adalah Mesias yang menderita). Melihat penampakan yang luar biasa itu, Petrus merasa sangat berbahagia, Sebagai murid Yesus yang baik, Petrus siap melayani tamu-tamu agung itu dengan mendirikan tiga kemah.

GUNUNG YANG TINGGI

Di gunung manakah tepatnya peristiwa transfigurasi itu berlansung? Sayang sekali Matius dan para penginjil lain tidak menyebutkannya dengan jelas.

Dalam tradisi Yahudi, daerah-daerah yang tinggi-seperti gunung- memang merupakan tempat yang paling tepat untuk perjumpaan antara manusia dan yang ilahi.

Demikianlah pengalaman Musa dan Elia yang sama-sama menerima pewahyuan Tuhan di Gunung Sinai.

Menurut tradisi, perubahan rupa Yesus itu terjadi di Gunung Tabor, yang memiliki ketinggian 588 m, Atau, karena pengakuan Petrus terjadi di daerah Kaisarea Filipi, mungkinkah gunung yang dimaksud adalah Gunung Hermon (ketinggian 2.774m), yang terletak di dekat daerah itu?

Leks, Stefan, Tafsir Injil Matius

Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 376

Bagi petrus, benar-benar inilah momen yang ia idam-idamkan, di mana Yesus sebagai Mesias meraih kemuliaan kekal dan didukung oleh tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama. Inilah zaman akhir yang dipenuhi kebahagiaan abadi dan Petrus pun bermaksud terus tinggal dalam situasi yang penuh sukacita itu. Benar bukan harapannya bahwa Mesias pasti jaya? Mana ada Mesias yang menderita, apalagi sampai mati dibunuh!

Tapi, keajaiban belum berakhir. Tiba-tiba saja terdengar suara dari surga yang menyatakan bahwa Yesus adalah AnakNya yang terkasih. Terutama bagi Petrus, masih ada pesan yang penting untuk diperhatikan. Bapa memberi perintah padanya, ”Dengarkanlah Dia.” Jadi rupanya Petrus harus mengubah pandangan manusiawinya. Ia diharapkan lebih mendengarkan kehendak Allah sebagaimana disampaikan oleh Yesus dalam ajaran-ajaranNya.

Turun gunung, kembali ke alam nyata

Peristiwa di gunung itu tentulah sangat mengejutkan hati ketiga murid itu. Ketika mendegar suara Allah, mereka bahkan sampai kalang kabut, jatuh tersungkur karena sangat takut! Namun, ketakutan itu segera berlalu. Peristiwa penampakan telah berakhir dan Yesus menenangkan hati para muridNya.

Membingkai perikop ini, Yesus dan para murid dikisahkan turun gunung (dibagian awal mereka diksisahkan naik gunung). Sebuah pesan penting disampaikan Yesus kepada mereka bertiga. Sebelum Anak Manusia mengalami kebangkitan, Petrus dan dua rekannya itu tidak boleh mengisahkan penglihatan di gunung tersebut. Yesus tidak ingin orang-orang salah paham, mengira bahwa Ia adalah Mesias yang akan mempimpin bangsa Israel maju perang (apalagi jika orang-orang itu tahu bahwa Yesus didukung oleh Musa, Elia, dan Allah sendiri!). Setelah Yesus bangkit, bolehlah hal itu diceritakan sehingga orang-orang sadar bahwa Yesus adalah Mesias, tapi tidak seperti yang mereka bayangkan.

Amanat

Melalui ksiah transfigurasi, penginjil Matius menegaskan kepada kita sekalian bahwa Yesus adalah Mesias yang direncanakan oleh Allah, bukan Mesias seperti yang selam ini dibayangkan oleh manusia. Tradisi Israel, yang diwakili oleh sikap Petrus, mengharapkan datangnya Mesias yang jaya, yang tidak mengenal kata gagal, derita, apalagi kematian (dengan cara dibunh pula!). Petrus ingin agar Yesus menjadi Mesias yang seperti itu. Nah, sudah saatnya Petrus dan murid-murid yang lain mendengarkan kehendak Allah, tidak hanya menuruti gagasan diri mereka sendiri saja.

Jalan yang dipilih Allah bukanlah jalan yang instan. Bukan karena mentang-mentang mahakuasa, Allah datang ke dunia, dan dengan satu kata membereskan semuanya. Seperti sulap saja! Kita sendiri pasti menyadari bahwa hidup di dunia ini bukan hal yang sederhana. Setiap hari dan setiap waktu, hidup kita diwarnai dengan derita, kesulitan, dan tantangan.Allah mengerti itu dan ingin menunjukkan solidaritasNya demi mendukung perjuangan kita. Maka, dipilihNya jalan penderitaan.

Pilihan Allah terkesan Absurd, tapi jika direnungkan dalam-dalam sungguh menguntungkan kita. Dulu penderitaan dianggap sebagai aib, menunjukkan bahwa kita ini orang-orang yang dihukum Allah. Celaka benar orang yang hidupnya susah, padahal dia itu sebenarnya hidupnya benar dan tidak melakukan kejahatan apa pun. Nah, kalau Mesias yang diutus Allah ternyata juga mengalami penderitaan, siapa yang berani mengatakan bahwa penderitaan itu aib yang harus disingkiri? Mulai dari sekarang, penderitaan setidaknya akan dipandang dari sudut lain, yang lebih positif.

Petrus diminta untuk mulai mendengarkan Yesus, demikian pula kita. Dilihat-lihat, bisa jadi kita merasa bahwa banyak kesulitan mendera hidup kita. Siapa tahu kita jadi putus asa, terus berkeluh kesah, menyalahkan Tuhan, dan berdoa, ”Tuhan segera buat keajaiban untuk membebaskan aku!” Bagi kita yang demikian, Tuhan sendiri berkata, ”Dengarkanlah Dia.” Kita diminta mendengarkan Yesus, juga melihat teladanNya ketika menghadapi saat-saat yang berat. Ia tidak menolak penderitaan.
Ia menghadapinya dengan tegar.

Tidak ada komentar: