Hari Minggu Prapaskah I, 10 Februari 2008
Rasa lapar jangan disepelekan. Sebab, di saat perut kita kosong tak berisi, tidak banyak yang bisa kita lakukan, bahkan sekedar untuk berpikir sekalipun. Yang ada dalam pikiran kita waktu itu niscaya hanyalah makan, makan dan makan. Tidak heran, setelah merenungkan fenomena itu dalam-dalam ada seorang filsuf yang sampai pada kesimpulan, ”Orang dapat belajar filsafat setelah dia kenyang.” Siapa mau pusing-pusing belajar filsafat ketika perutnya lapar, untuk bangun dari tempat tidur saja sudah susah!
Banyak juga yang berpendapat bahwa jarak antara rasa lapar dan pencobaan itu sangat dekat. Perut yang kosong memang tidak kenal kompromi. Ia menuntut untuk segera diisi dengan apa saja. Maka dari itu hati-hatilah terhadap orang lapar, da lebih hati-hati jika yang lapar itu adalah diri kita sendiri. Godaan untuk gelap mata dan menghalalkan segala cara sangat dekat mengintai kita, persis seperti yang dialami Yesus ketika diserang rasa lapar di padang gurun. Ia dibujuk unutk mengubah batu-batu yang bertebaran di situ menjadi roti. Saat lapar ditawari roti?? Hmm.. enak sekali, bukan?
Matius 4:1-11
1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
6 lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
7 Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
9 dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Struktur Teks
Kisah pencobaan di padang gurun dilaporkan begitu singkat oleh Markus (Mrk. 1:12-13), namun dalam Matius, kisah ini terurai secara panjang lebar (demikian juga dalam Injil Lukas, Luk. 4:1-13). Versi Matius menggemakan tema Yesus sebagai Anak Allah. Status ini dinyatakan pertama kali oleh Allah sendiri dalam kisah pembaptisan (Mat. 3:17), namun di sini coba digoyahkan oleh Iblis. Lawan-lawan Yesus juga melakukan hal yang sama, misalnya ketika Yesus tergantung di kayu salib (Mat. 27:40,43).
Perikop Mat. 4:1-11 dapat dibagi sebagai berikut:
▫ Ay. 1 = Setelah dibaptis Yohanes, Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun. Disitu ia berpuasa dan mendapat pencobaan ketika sudah merasa lapar.
▫ Ay.2-9 = Iblis membujuk Yesus dengan tiga macam godaan. Dengan mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama, Yesus menolak godaan-godaan itu.
▫ Ay. 11 = Para malaikat melayani Yesus yang telah berhasil melampaui pencobaan-pencobaan Iblis.
Ulasan Teks
Dibawa ke padang gurun
Kisah pencobaan di padang gurun melanjutkan kisah pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan (Mat. 3:13-17). Menurut kesaksian Matius, sesudah Yesus dibaptis tiba-tiba saja terdengar suara dari surga, ”Inilah Anak-Ku yang terkasih kepadaNyalah Aku berkenan.” Suara itu tentu adalah suara Allah. Dengan tegas Ia menyatakan bahwa Yesus adalah AnakNya. Tapi, sepanjang Injil Matius, itu tidak mencegah para lawan untuk terus meragu-ragukan dan mencoba merongrong status Yesus sebagai Anak Allah, seperti yang dilakukan Iblis kali ini.
Setelah dibaptis, ”lalu Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun.” Tidak perlu aneh-aneh membayangkan Yesus terbang ke situ. Yang dimaksud Matius, dibawah pimpinan Roh Allah, Yesus pun lalu pergi ke padang gurun. Tujuan jelas: Yesus ke padang gurun ”untuk dicobai Iblis”. Pada masa lalu, Israel dipilih Allah untuk hidup dalam perjanjian denganNya. Mereka pun disebut sebagai anak-anak Allah. Namun, apa yang terjadi ketika mereka berkelana di padang gurun empat puluh tahun lamanya? Mereka gagal bersikap setia kepada Allah, Bapa mereka. Nah, bagaimana halnya Yesus, Israel yang baru? Mampukah Ia bersikap setia? Benarkah Ia adalah Anak Allah yang sejati?
Dipadang gurun Yesus berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, sama benar dengan yang dahulu dilakukan oleh Musa (Kel. 34:28). Setelah berpuasa sekian lama, Yesus pun diserang rasa lapar dan pada saat itulah Iblis datang untuk melanjutkan godaan-godaan mautnya. Hal ini agak berbeda dengan versi Markus (1:13, diikuti Luk. 4:2), yang mengatakan bahwa pencobaan itu berlansung selama empat pulih hari empat puluh malam.
DIMANAKAH PUNCAK BAIT ALLAH?
Godaan kedua berlansung di Yerusalem. Karena kisah ini adalah kisah teologis, tidak tepat jika kita membayangkan bahwa Iblis membawa Yesus ”terbang” ke kota itu. Namun, setidaknya menurut penggambaran penginjil Matius, di Yerusalem, Iblis menempatkan Yesus ”di puncak Bait Allah” atau versi TB ”di bumbungan Bait Allah”. Manakah yang dimaksud dengan puncak Bait Allah itu? Apakah Yesus ditempatkan di atap Bait Allah?
Sebetulnya maksud puncak Bait Allah juga tidak terlalu jelas. Dalam bahasa Yunani, istilah yang dipakai dalah pterugion, secara harfiah artinya ”sayap kecil’. Mungkin Matius bermaksud mengatakan bahwa di Bait Allah, Yesus dibawa ke semacam balkon yang terletak di tempat yang sangat tinggi. Tidak jelas apakah balkon yang dimaksud ada di gedung utama Bait Allah, salah satu tembok Bait Allah, pintu gerbang, ataukah di serambi yang mengelilingi Bait Allah. Yang dipentingkan di sini rupanya bukan tempat itu sendiri, melainkan ketinggiannya.
Harun, Martin, Memberitakan Injil Kerajaan: Ulasan Injil Hari Minggu Tahun A Masa Khusus, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm.66
Godaan kedua digambarkan berpindah lokasi di Yerusalem. Iblis membawa Yesus ke situ dan menempatkanNya dipuncak Bait Allah. Melihat bahwa godaan pertama ditangkal oleh yesus dengan kutipan Kitab Suci, Iblis tidak mau kalah. Dalam rangka menggoda Yesus, dipamerkanya pula keahliannya dalam soal kutip mengutip Kitab Suci. Ia membujuk Yesus untuk terjun kebawah. Tidak usah khawatir cedera. Menurut Iblis, Yesus pasti tidak akan sampai jatuh ke tanah karena Allah pasti akan mengirim para malaikat untuk menangkap Yesus, sesuai dengan isi Mzm. 91:11. Yesus meolak godaan ini karena sebagai Anak, Dia sungguh percaya kepada Allah sebagai Bapa dan penyelenggaraanNya yang sungguh amat baik. Mengutip Ul. 6:16, Ia tidak mau mencobai Allah dengan menuntut suatu perlindungan istimewa. Lagi pula, terjun dari ketinggaian tanpa alasan, hanya agar ditangkap para malaikat, sungguh sebuah tindakan yang tidak masuk akal!
Lokasi pencobaan berpindah lagi, kali ini di atas gunung yang sangat tinggi. Seluruh kerajaan di dunia tampak dari situ dan Iblis berniat memberikannya semua pada Yesus, ”Jika Engkau sujud menyembah aku” Nah, ini soal serius. Iblis dengan begitu mengklaim dirinya berkuasa atas bangsa-bangsa, padahal Tuhanlah yang empunya alam semesta. Jadi Iblis di sini menganggap dirinya sebagai Tuhan sehingga menuntut disembah oleh Yesus. Jabatan dan kekuasaan memang tawaran yang sangat menggoda. Tapi dalam hal ini pun Yesus tetap teguh dalam pendirianNya. Hanya Allah yang patut disembah, bukan yang lain.
Para malaikat melayani Yesus
Tiga godaan Iblis berhasil dilalui Yesus. Iblis kalah dan sementara waktu mundur meninggalkan Dia. Sang Anak dibujuk untuk tidak setia kepada Bapa, namun tak sedikit pun bujukan itu menggoyahkan kepercayaanNya kepada Bapa. Justru karena percaya dan tidak menuntut apa pun itulah, Yesus digambarkan mendapat pemeliharaan dari Bapa. Mengutip Markus (Mrk. 1:13), Matius mengambarkan kedatangan malaikat-malaikat untuk melayani Yesus, mencukupi segala keperluan Yesus.
Amanat
Empat puluh hari empat puluh malam lamanya Yesus berpuasa di padang gurun. Masa itu sering di sebut-sebut sebagai masa persiapan sebelum Ia mulai berkarya di tengah-tengah masyarakat. Namun, dengan kisah itu Matius lebih-lebih ingin menunjukkan kepada kita Yesus sebagai Anak Allah yang sejati. Godaan untuk tidak mempercayai penyelenggaraan Allah, mencobai Allah, dan menyembah Iblis tidak digubrisNya sama sekali. Dengan ketaatan dan keteguhan hati yang luar biasa seperti itu, siapa berani meragukan Yesus adalah Anak Allah yang sejati??
Sikap Yesus menjadi koreksi bagi sikap Israel di masa lalu sukanya menuntut ini itu terhadap Allah. Kalau kita membaca kisah perjalanan mereka di padang gurun setelah mereka keluar dari Mesir, jarang sekali kita jumpai orang-orang Israel itu bersikap taat dan percaya. Perjalanan di padang gurun dalah perjalanan yang penuh keluh kesah! Bukannya mendengarkan perintah Allah, orang Israel waktu itu cenderung inigin mengatur-atur Allah. Sikap yang terbalik, bukan?
Kita boleh menyalahkan mereka, tapi sebenarnya kita pun memiliki kecenderungan yang sama. Hidup manusia di dunia memang tidak mudah karena penuh dengan masalah, kesulitan, dan tantangan. Karena itu ada yang mengumpamakan bahwa hidup kita di dunia ini bagaikan sebuah perjalanan di padang gurun. Nah, bagaimana kita menjalani perjalanan yang berat ini? Jangan-jangan isinya hanya keluh kesah karena kita tidak puas pada penyelenggaraan Allah. Tapi, semoga tidak demikian. Teladan Yesus kiranya menguatkan kita sekalian ketika Iblis datang menggoda kita untuk melepaskan diri dari Allah. Mari kita merenungkan hal itu dalam masa puasa kali ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar