Pendalaman Kitab Suci Vol. 23, No.1 Januari-Februari 2008
Orang miskin dilarang sakit. Demikian kata sebuah surat kabar dalam beritanya mengenai harga obat-obatan dan biaya perawatan kesehatan yang sekarang ini makin mahal saja. Coba saja Anda menginap barang tiga hari di rumah sakit (kalau Anda sakit tentunya). Syukur kepada Allah jika ongkos yang harus Anda bayar berada di kisaran ”ratusan ribu”, sebab untuk urusan itu sekarang biasanya terucap kata ”juta”. Biaya sebesar itu jelas tak terjangkau oleh orang-orang miskin, yang ironisnya saat ini jumlahya semakin banyak. Akibatnya, dari kalangan ini banyak yang tak bisa berumur panjang. Bagaimana bisa panjang umur, kalau sakit dibiarkan begitu saja karena tak ada uang untuk pergi ke dokter.
Selain masalah kesehatan, orang miskin ternyata masih memiliki aneka macam keterbatasan. Di bidang pendidikan, misalnya. Biaya sekolah ikut-ikutan melambung tinggi sehingga muncul pemeo (sindiran) bahwa orang miskin dilarang sekolah. Terjepit sana – sini, jangan heran jika lama –kelamaan orang berpikir bahwa orang miskin dilarang hidup!
Jadi orang miskin ternyata tidak enak, jauh dari kegembiraan dan kenyamanan hidup. Tapi mengapa dalam khotbah di bukit, Yesus justru menyebut orang miskin sebagai yang berbahagia?
Matius 5:1-12a
1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
12a Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga,
Struktur Teks
Khotbah di atas bukit oleh Matius ditempatkan sebagai pengantar, sekaligus dasar bagi tuntutan-tuntutan radikal, yang harus ditepati oleh siapa saja yang mau menjadi pengikut Kristus. Tuntutan-tuntutan itu (menjadi garam dunia, sikap terhadap hukum Taurat, larangan untuk bercerai, hal berpuasa, dan sebagainya) diuraikan dalam 5:13-7:27.
Mat. 5:1-12a dapat kita bagi sebagai berikut:
Ay. 1-2 = Inilah pengantar yang menjelaskan posisi Yesus dan orang banyak/para murid yang mengikuti dan menjelaskan ajaranNya.
Ay. 11-12a = Sebuah sabda bahagia khusus bagi para murid Yesus dan ajakan agar mereka senantiasa bersukacita.
Ulasan Teks
Yesus, Musa baru, mengajar diatas bukit
Menurut keyakinan banyak tradisi, yang ilahi bertakhta di tempat-tempat yang tinggi, digunung misalnya. Pewahyuan dan perjumpaan manusia dengan yang ilahi biasanya terjadi di situ, seperti yang dialami oleh Musa (Kel. 19:18-20) dan Elia (1Raj. 19:8). Tidak heran, Matius – yang menulis injilnya bagi kalangan yang akrab dengan Perjanjian Lama- memilih bukit sebagai lokasi penyampaian sabda-sabda bahagia.
Kepada jemaatnya, Matius ingin memperkenalkan Yesus sebagai Musa yang baru. Dahulu Musa di Gunung Sinai menerima sepuluh firman Allah dan meneruskannya kepada umat Israel. Kini, dari sebuah tempat tinggi, Yesus melakukan hal serupa. Ia mengajarkan kaidah-kaidah kehidupan yang perlu ditaati oleh siapa saja yang ingin diterima masuk dalam Kerajaan Allah. Namun, tidak seperti Musa, Yesus tidak sekedar ”meneruskan pesan” dari pihak lain. Sabda-sabda yang disampaikan Yesus berasal dari diriNya sendiri. Pesan Matius kiranya cukup jelas: Yesus lebih unggul dari Musa!
Pendengar Yesus kali ini bukan hanya murid-muridNya, tapi juga orang banyak yang ”berbondong-bondong mengikuti Dia” (4:25). Baru saja memulai karyaNya dengan berkeliling Galilea, Yesus tampaknya telah berhasil menarik perhatian masyarakat luas. Bagi mereka dan juga bagi murid-muridNya inilah Yesus menyampaikan sabda-sabda bahagia. Sabda-sabda ini sungguh menyejukkan hati dan menumbuhkan pengharapan bagi siapa saja yang selama ini hidupnya dalam masyarakat senantiasa dipinggirkan dan disisihkan.
Delapan sabda bahagia
Yang disapa berbahagia untuk pertama kali adalah orang-orang miskin dihadapan Allah. Berbeda dengan Lukas yang menekankan kemiskinan dalam arti harfiah (kemiskinan secara materi, Luk. 6:20), Matius menambahkan dihadapan Allah karena yang ia maksud adalah orang-orang sederhana, mereka lebih rendah hati dan dalam hidupnya menaruh kepercayaan kepada Allah. Selanjutnya, Yesus menyebut berbahagia orang-orang yang berdukacita. Dukacita di sini juga perlu dimengerti dari sudut pandang rohani, yaitu keprihatinan karena kehendak Allah yang diabaikan oleh manusia di dunia ini. Yang juga berbahagia menurut Yesus adalah orang yang lemah lembut, yaitu mereka yang tidak memegahkan diri dan tidak mengandalkan kekuatan diri
ATAU
DI TEMPAT DATAR ?
Menurut Matius, Yesus mengucapkan sabda-sabda bahagia dari atas bukit, namun menurut Lukas, peristiwa itu terjadi pada suatu tempat yang datar (Luk. 6:17). Bagaimana perbedaan ini dapat dijelaskan?
Umum diterima bahwa Matius dan Lukas memakai sumber yang sama dalam menyusun perikop ini, yaitu tentang empat sabda bahagia. Tiga sabda yang pertama tertuju bagi orang-orang miskin, tertindas, dan lapar: sedang sabda bahagia yang keempat menyapa orang yang dianiaya karena Anak Manusia. Dua penginjil itu lalu mengolah bahan ini dan menyusun perikop tentang sabda bahagia sesuai dengan tujuan masing-masing.
Leks, Stefan, Tafsir Injil Lukas
Yogyakarta, Kanisius, 2003, hlm. 171-172
sendiri. Tiga pihak yang disebut pertama ini pada dasarnya memiliki kesamaan: hidup mereka sepenuhnya bersanda pada kebaikan hati Allah. Mereka pantas berbahagia karena telah memilih sikap hidup yang tepat. Melalui Yesus, Allah kini menyapa dan menghibur mereka, serta menjanjikan kepenuhan kebahagiaan di masa yang akan datang.
Sabda bahagia keempat dan keenam (ay. 5,7) tertuju kepada orang-orang yang lapar dan haus akan kehendak Allah dan orang yang suci hatinya. Dua pihak ini berpadangan bahwa menjalankan kehendak Tuhan adalah suatu yang membahagiakan, bukan beban. Yesus membenarkan pandangan itu dan menyebut mereka berbahagia karena dengan demikian, keinginan keinginan duniawi yang tak teratur tidak akan mempengaruhi mereka. Hati yang jernih, yang terpusat pada Allah, akan memampukan orang-orang ini memilah-milah mana yang baik, mana yang buruk. Yesus berjanji bahwa mereka ini akan dipuaskan dan akan melihat Allah. Artinya, mereka kelak akan menikmati keselamatan kekal dariNya.
Sabda bahagia kelima dan ketujuh (ay.7,9) menyapa orang yang berbelaskasihan dan orang yang membawa damai. Mereka ini adalah orang-orang yang berupaya menghadirkan kebaikan Tuhan di dunia. Berkat orang-orang yang bersikap demikian, masyarakat akan hidup dalam suasana yang harmonis, saling pengertian, saling mendukung, dan saling mengampuni manakala ada kesalahan. Kebaikan Tuhan dengan begitu akan terwujud secara nyata dalam hidup manusia sehari-hari.
Terakhir, yang disebut berbahagia adalah orang yang dianiaya karena melakukan kehendak Allah. Justru karena melakukan kehendak Allah, kita bisa-bisa dibenci banyak orang dan mengalami penganiayaan. Pasalnya, orang-orang yang ingin hidup sesuka hati menjadi terganggu karenanya. Yesus mendorong kita untuk tidak menyerah dalam memperjuangkan kebenaran. Penganiayaan yang dialami hendaknya ditanggung dengan besar hati.
Sabda bahagia khusus
Khusus bagi para muridNya, Yesus menyampaikan sabda bahagia ”tambahan”, sabda bahagia kesembilan. Murid-murid menghadapi celaan, fitnah, dan penganiayaan karena menjadi pengikutNya. Hal tersebut memang membuat hidup mereka menjadi sulit, tapi itu bukan hal yang memalukan dan mesti disesali. Sebab, Yesus mengajarkan kebenaran dan mewartakan kehendak Allah. Lain halnya kalau Yesus itu penjahat dan mengajarkan hal-hal yang buruk. Oleh karena itu, para murid (dan kita) tak boleh malu mengikuti Dia. Para pengikut Yesus justru harus bangga dan berbahagia karena mereka memperjuangkan jalan hidup yang lurus. Penganiayaan tidak boleh membelokkan prinsip hidup kita!
Amanat
Ada gelas yang setengahnya terisi air. Orang yang pesimis akan mengatakan gelas itu ”setengahnya kosong”, sebaliknya orang yang optimis akan berkata bahwa gelas itu ”setengah terisi”. Mungkin perumpamaan itu tepat untuk menggambarkan fungsi sabda-sabda bahagia yang disampaikan Yesus. Sabda-sabda bahagia tidak boleh disamakan dengan candu, yang menawarkan hiburan-hiburan kosong bagi orang-orang yang hidupnya menderita, agar mereka tetap tenang dan pasrah menerima penderitaan mereka. Seorang ahli kitab berkata bahwa sabda bahagia itu ”melambungkan harapan jauh-jauh kedepan tanpa meninggalkan kehidupan yang dialami sehari-hari”. Maksudnya, justru dengan sabda bahagia, kita didorong untuk melihat kehidupan konkret kita dari sudut pandang yang lain.
Memang sabda bahagia dalam Injil Matius kental sifat rohaninya. Kemiskinan yang ia maksud adalah kemiskinan rohani, sedangkan lapar dan haus yang disinggungnya adalah lapar dan haus akan kehendak Allah, bukan akan nasi dan air minum. Namun, rumus bahwa ”yang rohani harus terwujud secara konkret” berlaku disini. Faktanya, murid-murid dan para pengikut Yesus waktu itu adalah orang-orang kecil, mereka yang oleh banyak orang dianggap ”bukan siapa-siapa”. Perlukah situasi itu disesali? Perlukah ketiadaan materi, pangkat, dan jabatan membuat para murid merasa rendah diri dan hidupnya tidak bahagia??
Tidak. Kebahagiaan dirasakan seseorang bukan karena ia kaya, terpandang, dan berkuasa. Uang dan pujian hanya membuat orang senang sesaat, dan itu bukanlah kebahagian sejati. Para murid Yesus harus mengupayakan kebahagiaan sejati, yang akan diraih juka mereka mempunyai sikap hati yang tepat, yaitu rendah hati dan percaya akan penyelenggaraan Allah yang Mahabaik. Teladan untuk itu tidak lain adalah Yesus sendiri, yang hidup dalam kesederhanaan dan taat sepenuhnya pada kehendak Bapa.
Anda mungkin juga ”bukan siapa-siapa” di mata orang banyak. Tak adanya pengakuan dari orang lain membuat hidup Anda jauh dari kemudahan. Dengan semangat sabda-sabda bahagia, kiranya itu bukan halangan bagi Anda untuk menikmati kasih Allah yang melimpah dan disebut berbahagia. Ingat saja baik-baik bahwa dalam situasi apa pun kita harus rendah hati dan percaya. Dua sikap itu ternyata adalah kunci yang memecahkan banyak masalah yang kita alami dalam hidup ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar