Hubungan cinta kasih dengan Yesus dalam Sakramen Permandian adalah dasar pertumbuhan umat Gereja, bangsa Allah yang bersatu (yang sosial). Yesus dalam Sakramen Permandian menemui tiap-tiap orang dalam hubungan cinta kasih yang mengikat Yesus dengan seluruh umat Gereja: sebagai pengantin (suami) mencintai pengantin (istri).
Dalam Sakramen Perkawinan, cinta kasih Yesus kepada kita sebagai bangsa Allah mendapat tanda yang nyata, yang penuh oleh rahmat-Nya. Dua orang yang telah menerima permandian, hanya oleh Sakramen Perkawinan menjadi suami-istri.Melalui tanda sakramen itu, mereka berdua masuk salib dan kemuliaan Yesus Kristus.
2. ”Laki-laki dan wanita bukan dua manusia, melainkan satu manusia” kata Yohanes Krisostomus. Laki-laki dan wanita merupakan dua sifat yang berbeda pada manusia yang satu itu. Laki-laki sifatnya lain: tekanan lebih terletak di akal budi, pada wanita lebih ditekankan pada hati dan perasaan. Laki-laki memandanng dunia untuk menguasai dunia, wanita memandang dunia dengan pandangan hati. Laki-laki tertuju pada berusaha dan kegiatan, wanita kepada menerima dan memelihara. Maka sifat laki-laki lebih terletak di dalam keberanian, berusaha dan cinta akan kemerdekaan. Sifat perempuan lebih dalam semangat berserah diri, pengabdian dan kemesraan.
Betul: sifat dari masing-masing kaum terdapat pada kedua belah pihak, hanya tekanan berbeda kepada masing-masing kaum. Meskipun sifat itu berbeda-beda dan juga karena sifat itu berbeda-beda, maka laki-laki dan perempuan tertuju kepada seorang akan yang lain, untuk saling melengkapi: menjadi satu manusia yang lengkap. Laki-laki yang tidak dipengaruhi dan dididik wanita akan cenderung kepada sifat kasar dan biadab. Wanita yang tidak pernah dididik dan dipengaruhi laki-laki akan menjadi lemah dan kacau pikiran. Yang satu bukannya lebih dari yang lain, masing-masing mempunyai sifat yang perlu, harus terdapat bersama-sama dalam pertemuan laki-laki dan wanita.
Wahyu Allah menyatakan bahwa laki-laki tanpa wanita tidak lengkap maka sabda-Nya: ”Tidak baik, kalau manusia itu tinggal seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Sesudah itu diciptakannya wanita, dan Allah berfirman bahwa ciptaan-Nya adalah baik adanya.
Bukan laki-laki sendiri, melainkan laki-laki dan wanita bersama-sama disebut ”Gambaran Allah” (Kejadian 1:27), bersama-sama diberi tugas ”menguasai bumi” (Kejadian 1:28-30), Laki-laki rindu kepada wanita: ”Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bresatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24).
3. Hubungan antara laki-laki dan wanita itu mendapat perwujudan yhang tetap di dalam pernikahan. Hubungan itu adalah hubungan jasmani dan rohani, hubungan tubuh dan hati, lahir dan bathin. Hubungan itu pertama-tama hubungan pribadi . Maka, tidak baik kalau satu pihak memandang pihak lain sebagai ”benda”nya, ”milik” nya, ”alat yang dipakai”. Kalau hal itu terjadi maka kehidupan suami-istri setiap hari menjadi egoisme yang kasar, ingat diri, menjadi iblis. Laki-laki melihat dalam wanita sebagai ciptaan Allah, pribadi dari Allah; maka ia merasa hormat. Demikian wanita terhadap laki-laki. Maka dengan gembira mereka bergandengan tangan dengan memuji Allah, dalam usaha saling membantu selama hidup di dunia ini, untuk bersama-sama tiba di hadapan Allah kelak, yang melihat dalam mereka berdua bersama-sama: gambarannya.
Maka harus ada rasa tanggung jawab seorang kepada yang lain, baik dalam kepentingan materil, maupun dalam kepentingan rohani. Dalam Sakramen Perkawinan Allah menemui mereka berdua, dan menetapkan pertemuan itu.
4. Hasil dari Sakramen Perkawinan yang pertama ialah: Laki-laki dan wanita menjadi suami-istri dalam pandangan Allah, mereka menjadi gambaran hidup dari hubungan Kristus dengan Gereja. Sebab itu, timbul harapan supaya mereka menurunkan anak-anak untuk Gereja,menyuburkan umat Gereja dengan rahmat anak-anak Allah yang baru.
Hasil kedua ialah: rahmat, terang dan kekuatan dari Kristus untuk hidup dalam pernikahan sesuai dengan kehendak Allah. Mereka tetap disinari kemuliaan Kristus berdasarkan sakramen yang ada pada mereka. Cinta kasih manusia mengenal kelemahan, mengalami keguncangan. Apabila cinta kasih mereka mengalami gangguan dan kesukaran maka rahmat sakramen menjamin, supaya cinta kasih mereka akan diberi kekuatan baru oleh cinta kasih Kristus, dan oleh ketaaatan dan cinta kasih balasan dari Gereja terhadap Kristus. Cinta kasih Kristus dan Gereja menjadi ikatan yang erat bagi kedua orang yang terikat dalam Sakramen Perkawinan.
St. Paulus memperingatkan bahwa cinta kasih suami terhadap istri harus setia sebagaimana cinta Kristus kepada Gereja maka ia juga harus sudi mengurbankan nyawanya untuk istrinya menurut contoh Yesus Kristus. Ketaatan istri terhadap suami harus sesuai dengan ketaatan Gereja terhadap Kristus. Dan ketaatan itu mudah apabila suami betul menyatakan cinta kasih kepada istri, yang diharapkan dari sakramen itu. Maka, dalam segala hal yang penting akan terjadi komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kristus telah datang untuk melayani bukan untuk dilayani. Hal itu akan menjadi pedoman bagi tiap-tiap suami, terutama apabila adat kuno belum sesuai dengan derajat yang diakui oleh Kristus terhadap Wanita.
5. Hubungan tunggal; seorang laki-laki dengan seorang istri (monogami). Kristus mempunyai hubungan dengan Gereka, dan mengurbankan nyawanya untuk Gereja. Dengan demikian, kita mengerti bahwa dalam pernikahan; lambang hubungan Kristus dengan Gereja, hubungan tunggal adalah syarat yang mutlak. Pihak ketiga akan merusakkan hubungan itu.
Hal itu ternyata berasal dari sabda Yesus sendiri. Ia mengulangi kalimat dari Perjanjian Lama tentang laki-laki yang akan meninggalkan orang tuanya, untuk tinggal bersama istrinya, maka mereka berdua menjadi satu tubuh. Maka, tiap-tiap hubungan dengan orang ketiga merusakkan persatuan yang dimaksudkan oleh Yesus sendiri.
Hubungan tetap yang tak dapat dipisahkan melainkan oleh kematian. Kristus mengadakan hubungan tetap dengan Gereja, dan tidak pernah akan memutuskan hubungan itu, ”Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:20). Demikianpun hubungan suami-istri. Sebab hubungan mereka bukan berdasarkan cinta kasih yang secara duniawi saja. Dan bukan atas dasar kepentingan duniawi saja, melainkan atas dasar cinta kasih Yesus terhadap Gereja: sesuai ikatan yang tidak dapat diuraikan lagi.
Orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang hal itu, sesusi dengan izinan nabi Musa. Yesus menolak dengan tegas, menyebut kekerasan hati dari Israel. ”Tetapi dari permulaan bukan begitu”, sabda Yesus dengan tegas. ”Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia”. (lihat artikel poligami dan kawin cerai).
Karena Yesus menegaskan dengan keras bahwa orang yang telah menikah tidak dapat bercerai (Matius 19:1-12), maka murid-murid-Nya sendiri terkejut. Mereka rupanya belum pernah mendengar suatu ucapan setegas itu. Sehingga mereka katakan ”kalau demikian halnya hubungan suami-istri maka lebih baik tidak perlu kawin sama sekali”. Lalu Yesus menjawab dengan beralih kepada soal lain. Tidak kawin sama sekali bukan suatu karunia bagi tiap orang, melainkan hanya bagi mereka yang diberi karunia itu oleh Allah.
Markus 10:1 dan Lukas, mengutip ucapan Yesus kepada orang Farisi, ”Barang siapa menceraikan istrinya dan kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya, dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah”. Di Injil Mat 19:9 dan 5:31 ditambah ”Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia menjadikan istrinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan ia berbuat zinah”.
6. Terlebih dalam hubungan suami-istri, cinta kasih harus memegang peranan yang penting, sebab itulah yang ditandakan oleh hubungan Yesus Kristus dengan Gereja. Hubungan suami-istri atas cara istimewa harus dikuasai oleh cinta kasih, yang sudah menajdi hukum bagi tiap-tiap orang umat Gereja Kristus, lebih lagi bagi suami-istri. Tiap-tiap egoisme harus dikekang. Egoisme menjadi pokok keruntuhan bagi hidup pernikahan, dan lansung menentang sifat sakramen yang ada padanya.
Kedua orang yang menikah belum mengenal betul seorang akan yang lain, belum mengenal akan sifat-sifat masing-masing yang baik dan yang kurang baik. Yang terdapat pada setiap manusia. Dalam hidup pernikahan lama-kelamaan mereka harus bertumbuh dalam cinta kasih, tenggang rasa dalam segala kekurangan. Pengalaman bertahun-tahun lamanya akan mengajar kepada mereka caranya memberi dan menerima. Kalau bagi semua orang nasihat Paulus berlaku: ”Hendaknya kamu saling membantu”, hal itu terutama berlaku bagi suami-istri.
Justru karena mereka selalu berdekatan, mereka akan merasa lebih kekurangan yang terdapat pada masing-masing pihak. Hal itu sudah pasti harus membawa ketegangan. Mereka harus berusaha mengatasi dalam pandangan: mungkin saja tidak benar seratus persen dalam hal ini. Demikian mereka akan bertumbuh didalam cinta kasih melalui kesulitan dan ketegangan hidup sehari-hari.
7. Sakramen bukan hanya terjadi pada hari nikah yang pertama. Sakramen merupakan pertemuan dengan Yesus Kristus dalam hubungan bersama suami-istri, tetap berlaku selama mereka hidup dalam perkawinan. Sakramen itu menghubungkan suami-istri dengan Yesus yang melalui salib dan kematian masuk ke dalam kemuliaan. Kehidupan Nikah merupakan suatu bahagia; mengambil bagian di dalam kemuliaan Yesus yang bangkit. Tetapi, salib tidak akan hilang juga. Melalui salib dan kesulitan, melalui hubungan dengan Yesus pada salib, keseharian hidup mereka akan merasa lebih bahagia. Dalam segala kesulitan sama-sama dipikul, dalam semangat ingat diri dan tenggang rasa, tampaklah kepada mereka bekas luka-luka Yesus Kristus. Tetapi bekas luka Yesus bersinar sesudah ia bangkit. Demikian juga bagi orang kawin: hidup berkorban bagi mereka juga berarti hidup berkorban dalam sinar kemuliaan Yesus Kristus sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar