Yohanes 3: 16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Agama Yahudi adalah akar dari Kekristenan, tetapi kita semua tahu bahwa Agama Yahudi eksklusif bagi bangsa Yahudi demikian juga bangsa Yahudi adalah bangsa yang bersikap eksklusif karena mereka adalah The Chosen People. Tuhan adalah yang mempunyai alam semesta sehingga bangsa-bangsa lainpun kemudian diizinkan mempeloleh keselamatan dariNya melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat karya agungNya bahwa penyembahan dan ibadah kita di bumi sekarang seperti penyembahan di surga dimana orang-orang dari banyak bangsa, suku dan bahasa menyanyi kepada Yesus dihadapan Tahta Allah. Wahyu 7, 9-10 : Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
INJIL DAN SEJARAH :
Tokoh sejarah Iskandar Agung (356-323 SM) dari Makedonia, atau Alexander the Great, atau di kalangan muslim dan melayu sebagian menyebutnya dengan nama Iskandar Zulkarnain. Adalah salah satu tokoh terhebat yang pernah hidup, tetapi mati muda, telah menaklukkan tiga benua, Eropa, Afrika dan Asia. Di Afrika, Alexander menaklukkan Mesir dan mendirikan kota Alexandria atau dalam bahasa Arabnya, Iskandariah. Di benua Asia, dia menaklukkan Iran sampai ke India. Pada tahun 332SM Alexander datang ke Yerusalem. Terhadap semua daerah jajahannya Alexander mempersatukannya dengan membuat Koine Dialek, (Istilah koine itu berarti umum); jadi Koine Yunani berarti bahasa Yunani yang berlaku untuk umum untuk masyarakat luas. Sebelum Alexander berkuasa, bahasa Yunani merupakan campuran dari sejumlah dialek atau bahasa daerah. Ketika Alexander berkuasa, ia berupaya agar bahasa Yunani itu menjadi bahasa yang digunakan untuk umum atau masyarakat luas. Pada masa penjajahannya Alexander juga membangun infrastruktur dengan pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lain pada wilayah jajahannya, dan kemudian ratusan tahun kemudian memberikan kemudahan bagi para Rasul untuk memulai mengabarkan Injil, tentu saja kita boleh memandang hal ini sebagai kemudahan karena Para Rasul tidak perlu "babat alas", dan dengan mudah melalui jalan-jalan yang sebelumnya telah dirintis mulai dari masa pemerintahan Alexander Agung itu.
Mengapa Alexander begitu hebat, perlu diingat bahwa dia adalah anak didik dari seorang Filsuf dan Ilmuwan terkemuka Yunani yaitu Aristoteles (384-322 SM). Bisa diartikan pikiran yang ada di otak Alexander adalah buah pikir dari Aristoteles. Tuhan memberi hikmah kepada mereka untuk menciptakan, mengeksplorasi dan menyebarkan Ilmu-ilmu, Budaya, Seni, Olah raga, Tata Bahasa, Kesusastraan, dan lain-lain. Dari situ kita bisa menangkap sebuah maksud, mengapa Allah mengizinkan bangsa-bangsa kafir menjajah umat pilihan Allah itu, atau dalam pemikiran yang lebih sederhana, kita bisa melihat bahwa hal tersebut mungkin diijinkan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Kristus ke dunia, hingga demikianlah jalannya. Taurat yang sifatnya eksklusif itu akan sulit untuk ditransferkan ke bangsa lain selain Yahudi. Perlu sebuah bahasa diluar bahasa orang Yahudi untuk mengabarkan Injil Yesus.
Pemahaman diatas memberikan kita satu jawaban mengapa Perjanjian Baru dalam Alkitab kita yang asli adalah ditulis dalam bahasa Yunani. Banyak kalangan non-Kristen mempertanyakan hal ini, mengapa Injil tidak ditulis dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aram, bahasa sehari-harinya Yesus?. Pada waktu itu bahasa Yunani adalah bahasa pergaulan, terutama di kalangan kaum terpelajar, sering digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem untuk perdagangan dan berziarah ke Bait Allah. Pada masa itu pula naskah-naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani (Tanakh Ibrani) diterjemahkan kedalam bahasa Yunani yang dikenal dengan Septuaginta. Selanjutnya dengan datangnya Bangsa Romawi pada tahun 63SM tambah lagi satu bahasa di wilayah itu yaitu bahasa Latin.
Pada masa Perjanjian Baru ditulis, koine Yunani sudah menjadi bahasa yang digunakan secara luas oleh bangsa Israel. Perjanjian Baru yang tertulis dalam Koine Yunani menandakan bahwa Yesus bukan milik bangsa Yahudi saja. Seiring bertambahnya waktu dan berkembangnya jaman, karya dari para-rasul yang mengemban secara teguh Amanat Agung Yesus Kristus agar berita Injil dapat dinikmati semua bangsa. Bahasa Yunani adalah bahasa yang sangat representatif untuk menyampaikan Firman Allah, salah satu contohnya : ada kata agape, filia, eros dan storge, yang semuanya diterjemahkan dengan kata "love" (Inggris) dan "kasih" (Indonesia). Hanya kata Yunani yang bisa menggambarkan Kasih Allah secara tepat yaitu AGAPE.
Alkitab kemudian diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa termasuk bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah-daerah. Mengapa Alkitab diterjemahkan ke berbagai bahasa?. Karena berita keselamatan itu lebih effektif disampaikan lewat bahasa yang bersangkutan, daripada mereka harus mempelajari bahasa aslinya dulu untuk mengenal Yesus. Tentu, bagi yang ingin mempunyai dan mempelajari Bahasa Asli Alkitab, baik Ibrani maupun Yunani, kesempatan tersebut dapat diperoleh bagi semua orang yang mau. Tetapi INJIL menekankan cakupan universal - bahwa Yesus datang untuk membawa keselamatan bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi (semua bangsa).
Kekristenan kita ini seringkali mendapat serangan-serangan dengan mencuplik ayat Alkitab sendiri
Matius 15:24 : "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel"
Benarkah demikian?, Karena ayat tsb tidak berdiri sendirian, dan untuk memahaminya harus kita baca dan dipelajari pada keseluruhan ayat-ayat dalam satu perikopnya sbb :
Perempuan Kanaan yang percaya (Matius 15:21-28 )
21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Ayat 24 Seringkali diklaim oleh orang-orang di luar Kristus sebagai suatu pernyataan yang rasialis. Padahal justru sebaliknya ada pengajaran yang sangat berharga bisa dipetik dari kisah itu. Yesus kala itu berada didalam lingkungan masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa orang-orang Yahudi adalah umat pilihan Allah; sedangkan bangsa lain tidak berhak menerima berkat Allah. Bangsa lain lebih rendah dan sebagainya. Yesus menjawab "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Hal ini adalah untuk menguji iman perempuan tersebut dan bahkan lebih jauh lagi Yesus mengucapkan kata-kata yang kedengarannya “kasar” sekali yaitu "anjing". Mengapa Yesus menggunakan kata “anjing” dalam kasus tersebut? Karena memang orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Kanaan rendah dan menyebut orang-orang Kanaan “anjing”. Dan Yesus “sengaja” mengangkat topik ini.
Satu hal yang kita harus perhatikan dalam kisah ini adalah bahwa Yesus telah menyembuhkan begitu banyak orang tetapi tidak semuanya memiliki IMAN seperti perempuan Kanaan ini, yang justru dari kalangan yang terhina dengan sebutan “anjing”. Bukan itu saja perempuan Kanaan tidak merasa tersinggung dan bahkan mempunyai keberanian untuk tetap memohon; ayat 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Perempuan Kanaan itu tetap dengan berani memohon agar anak perempuannya disembuhkan oleh Yesus, luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia tidak meminta apa yang diperuntukkan bagi orang Israel tetapi ia hanya meminta yang layak ia dapatkan, yakni remah-remahnya. Di sini kita melihat bagaimana besar imannya, karena ia tidak memaksakan kehendaknya tetapi ia benar-benar memfokuskan permohonnya kepada belas-kasihan dari Yesus. Ia tetap menganggap suatu anugerah walaupun dia hanya mendapatkan remah-remah, sesuatu yang tidak lagi dihargai orang lain.
Pelajaran besar yang diambil dari iman perempuan Kanaan itu bahwa dia tidak goyah ketika Yesus menjawab “tidak patutlah mengambil roti yang disedikan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.", dia balik menjawab dengan keberanian yang luar biasa “bahwa anjing yang berada di bawah meja itu makan remah-remah roti yang jatuh”. Seorang perempuan dari kalangan kafir dan seorang dari warga kelas dua, keprihatinannya terhadap anak perempuannya telah membuat dia berani menembus batas-batas budaya, tradisi dan gender dengan ketabahan dan keberanian. Inilah yang kemudian membuat Tuhan Yesus menjadi kagum.
Dalam kejadian itu, terbukti bahwa pelayanan Yesuspun menembus batas-batas kebiasan eksklusifitas Yahudi, Perempuan Kanaan itupun mendapat belas-kasihan dari Yesus. Perempuan ini telah datang pada alamat yang tepat, dia memiliki sikap yang benar, dan mendapatkan anugerah-Nya yang telah terbukti mendobrak pola pikir rasialis bangsa Yahudi masa itu. Yesus berkata "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Yesus telah dibuat kagum oleh iman dan kesederhanaan pola pikir dari perempuan Kanaan itu. Pujian semacam ini sangat jarang diucapkan oleh Yesus!
INJIL UNTUK SEMUA BANGSA :
Matius 10:5-6
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Ayat tersebut sering diklaim oleh kalangan non-Kristen, bahwa Injil hanya diperuntukkan bagi orang-orang Israel saja. Tetapi harus dipahami bahwa hal tersebut adalah merupakan perintah yang sifatnya temporary yang diperuntukkan ketika murid-murid Yesus melaksanakan awal-awal penginjilan. Bahwa Pengabaran Injil mempunyai tahapan-tahapan, mulai dari lingkungannya (orang-orang Yahudi), kemudian orang-orang di Yudea, Samaria, kemudian terus berjalan keluar, menyebar ke bangsa-bangsa lain (Kitab Kisah Para Rasul menuliskan perjalanan mereka mengabarkan Injil Yesus kepada bangsa-bangsa), Hal tersebut sesuai Amanat Agung Yesus Kristus :
Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Terlebih jauh lagi pada Kitab Kisah Para Rasul lebih jelas lagi tahapan-tahapannya bahwa pelayanan dimulai dari Yudea kemudian Samaria bahkan sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1:7-8 menuliskan,
JawabNya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Yudea dan Samaria adalah langkah yang harus dilewati untuk kemudian sampai ke ujung-ujung bumi. Waktu murid-murid Yesus melangkah ke bangsa-bangsa, tentunya Yudea dan Samaria itu menjadi tanggung-jawab terlebih dahulu. Bagaimana mengukur keberhasilan mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa adalah sangat tergantung kepada keberhasilan mereka melayani di wilayah Yudea dan Samaria. Kemudian dengan jelas pula kita baca dalam ayat dibawah ini :
Kisah Para Rasul 16:10 Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.
Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk keluar dari lingkup Israel dan mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Rasul Paulus dikenal sebagai Rasul yang banyak melakukan terobosan-terobosan sehingga Injil bisa diterima oleh segala macam lapisan, orang Yahudi, non Yahudi dan bangsa-bangsa lain.
Yesus yang universal, artinya Karya Agung Keselamatan dan berkat Kehidupan Kekal dari Tuhan Yesus Kristus diperuntukkan kepada semua orang dan tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding suatu negara, suku bangsa, ras dan budaya.
Untuk itulah Dia datang. Dan semua orang dapat menikmati kasihNya.
Merry Christmas Everyone.....
KelahiranNya itu merupakan peristiwa yang unik, karena Dia yang adalah Allah sendiri itu memilih cara yang begitu humble, meminjam rahim seorang perawan dan Dia lahir sebagaimana biasa seorang bayi lahir, hanya bedanya Ia lahir bukan dari benih fana antara benih perempuan dan laki-laki. Namun bayi yang ada dalam kandungan perempuan itu adalah dari Roh Kudus (Matius 1:20).
Didalam Yesus Kristus, kita mendapatkan anugerah persekutuan yang erat dengan Allah. Dia bukanlah Allah yang jauh, melainkan dekat dengan kita. Dalam diri Yesus Kristus, Allah mendatangi kita dan hadir di tengah-tengah umat manusia. Allah yang Maha-Agung dan Maha-Kuasa rela menjadi senasib dengan manusia dalam segala hal, termasuk kerelaannya menjadikan diriNya tebusan dalam peristiwa penyaliban dan berkorban demi misi penyelamatan umat manusia dari dosa.
PERINGATAN KELAHIRAN KRISTUS :
Peringatan kelahiran Kristus sering menjadi sorotan berbagai pihak, diluar Kristiani maupun kalangan Kristiani sendiri, bahkan ada diantara mereka yang ‘sangat membenci’ hari Natal. Mereka mengatakan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Hal tersebut bisa dipahami, karena Alkitab memang tidak menulis tanggal kelahiran Yesus.
Mereka juga mengatakan 25 Desember adalah hari-raya kaum kafir . Terbukti dengan data tertulis yang memuat liturgi perayaan kelahiran Kristus itu dapat dilihat dalam papirus pada abad ke-IV. Pada tahun 274 M di Kerajaan Romawi, tanggal 25 Desember dimulai perayaan kelahiran matahari karena diakhir musim salju tanggal itu matahari mulai kembali penampakan sinarnya dengan kuat, karena itu bagi orang Romawi kuno, hari itu dirayakan sebagai hari Matahari.
Ketika Kekristenan ‘dijadikan agama negara’ di Kerajaan Romawi, kebiasaan perayaan itu ternyata sukar ditinggalkan masyarakat Roma yang sudah menjadi Kristen. Oleh karena itu para pemimpin gereja kemudian mengalihkan perhatian mereka, perayaan yang semula menjadi perayaan Matahari diganti menjadi perayaan peringatan kelahiran Yesus. Ketentuan ini oleh gereja pada masa itu diresmikan di Roma tahun 336, dan mereka menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari peringatan kelahiran Kristus.
Peringatan kelahiran Kristus dengan tanggal peringatan 25 Desember akhirnya juga diperkenalkan oleh Kaisar Konstantin, hal ini sebagai pengganti tanggal 5-6 Januari yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai hari peringatan kelahiran Kristus. Perayaan Natal kemudian di lakukan di Anthiokia pada tahun 375 dan pada tahun 380 dirayakan di Konstantinopel, dan tahun 430 di Alexandria dan kemudian di tempat-tempat lain dimana kekristenan berkembang.
Tampaknya dengan latar belakang itu, tuduhan-tuduhan mengenai 25 Desember adalah hari raya kafir memang berdasar, karena ada catatan sejarah yang secara jelas menulis hal tersebut. Sekarang bagaimanakah kita menyikapi hal itu? Haruskah kita tidak lagi merayakan natal pada tanggal 25 Desember?
Dari penjelasan sejarah diatas, dapat kita ketahui bahwa awal-mula perayaan kelahiran Kristus bukan tanggal 25 Desember melainkan tanggal 5-6 Januari. Tetapi karena kesepakatan para pemimpin gereja pada waktu itu mereka mengubah peringatan tanggal 5-6 Januari menjadi tanggal 25 Desember untuk mengalihkan perhatian umat Kristiani dari kepercayaan lama mereka menuju kelahiran Kristus. Sehingga pada saat yang sama orang-orang kafir yang belum bertobat dan masih tetap merayakan tanggal 25 Desember dialihkan perhatiannya kepada Kristus.
Tetapi di masa kini umat Kristen tidak ada yang mengkaitkan hari Natal dengan hari dewa Matahari, tidak ada penyembahan atau apapun yang berkaitan dengan paganisme matahari dalam perayaan natal orang-orang Kristen. Karena Kristus-lah yang menjadi center-nya. Jadi walaupun tidak ada tertulis dalam Alkitab Yesus lahir pada tanggal 25 Desember, umat Kristen secara umum merayakan hari Natal pada salah satu hari di bulan Desember sampai Januari demi keseragaman.
Dalam memperingati "hari kelahiran Kristus" umat Kristiani akan menyadari makna yang lebih dalam lagi adalah kehadiran Allah dalam bentuk kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Kehidupan Yesus sebagai Tuhan yang menjadi manusia yang menyertai kita (Immanuel) tidak dapat dilepaskan dari saat kelahiran, pembaptisan, pelayanan, penyaliban, kebangkitan, sampai kenaikanNya ke surga. Sekalipun demikian, sebagai suatu peringatan, memang Natal kemudian berkembang sebagai suatu ‘perayaan’ dalam tradisi gereja dan masyarakat pada umumnya.
BOLEHKAH KITA MERAYAKAN CHRISTMAS/NATAL?
Perayaan hari kelahiran Yesus memang tidak tertulis, bahkan tidak ada anjuran dalam Alkitab untuk "merayakan" Natal, tidak ada anjuran untuk memasang pohon terang, dll.
Tetapi "Memperingati" kelahiran Yesus Kristus itu "mutlak".
Anda tentu bisa membedakan arti ‘perayaan’ dan ‘peringatan’, perayaan adalah cenderung bersifat ‘pesta’, sedangkan ‘peringatan’ lebih bersifat khidmat :
* 2 Timotius 2:8,
"Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku."
TR : mnêmoneue iêsoun christon egêgermenon ek nekrôn ek spermatos dabid kata to euaggelion mou
Ayat diatas adalah nasehat dari rasul Paulus kepada Timotius, tentang 3 hal yang penting akan Tuhan Yesus Kristus : KelahiranNya, kematianNya, dan kebangkitanNya.
Peringatan, asal katanya adalah ‘Ingat’. Kata "ingatlah" dalam ayat diatas menggunakan kata 'mnêmoneue' dari kata dasar 'mnaomai', meletakkan sesuatu di dalam pikiran. Akar kata yang sama juga dijumpai dalam ayat ini:
* Lukas 22:19,
"Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.'"
TR : kai labôn arton eucharistêsas eklasen kai edôken autois legôn touto estin to sôma mou to uper umôn didomenon touto poieite eis tên emên anamnêsin.
"Peringatan akan Aku", 'eis tên emên anamnêsin'. Kata 'anamnêsin' adalah akusatif dari 'anamnêsis' yang berasal dari 'anamimnêsko' yaitu preposisi 'ana' (ke/di tengah-tengah) dan 'mimnêsko'. Nah, 'mimnêsko' ini berasal dari 'mnaomai', meletakkan sesuatu di dalam pikiran.
Apakah kita hanya "mengingat" kematian Kristus? Apakah kita tidak "mengingat" kebangkitan-Nya, dan apakah kita tidak "mengingat" kelahiran-Nya pula?
Justru kebangkitan dan kelahiran Yesus Kristus itulah yang menjadi "inti" pemberitaan Paulus seperti dalam 2 Timotius 2:8 di atas. Paskah tanpa Natal tidak akan lengkap maknanya, karena kita tidak mengerti makna dari Paskah itu bila kita tidak mengerti makna KelahiranNya (natal).
"Merayakan" jelas berbeda dengan "memperingati" atau "mengingat". Merayakan cenderung berhura-hura, berpesta. Tetapi "mengingat" adalah lawan dari kata "melupakan". Tentu kita tidak akan melakukan tindakan seperti lawan kata ini. Yesus yang lahir di kandang yang hina perlu dijadikan contoh kerendah-hatian umat Kristiani yang melayani dan tidak minta dilayani. Dan menjadikan contoh bahwa Allah yang Maha Mulia dan yang Empunya langit dan bumi itu ternyata lebih memilih cara sederhana dalam kedatanganNya di dunia.
Mengenai Natal/Christmas; Sebenarnya tidak hanya dirayakan secara "religius" oleh umat Kristiani. Pada masa kini orang-orang yang bukan Kristen dimana-mana, misalnya di Jepang, di China dan lain-lain mereka pun ‘merayakan’ Christmas sebagai hari raya untuk bersenang-senang. Bahkan Christmas di seluruh dunia banyak digunakan sebagai "marketing tools". Di Malaysia, negara Muslim pada saat menjelang natal; Mall, Dept Store, Restaurant dimana-mana didekor sedemikian rupa untuk menarik minat customer/turis. Hal tersebut mungkin karena mereka juga tahu bahwa perayaan Natal pada 25 Desember hanyalah tradisi, bukan perintah yang tertulis dalam Alkitab.
Saya melihat segi positifnya saja, dengan Christmas banyak orang mengemas acara, ie. gathering, dinner dan macam-macam acara lain, untuk bercengkerama dengan keluarga dan sahabat2 mereka walaupun mereka bukan Kristen. Dan perayaan Christmas bisa juga menjadi sesuatu moment bagi tiap orang untuk merayakannya dengan caranya masing-masing.
Karena Perayaan Christmas sudah menjadi ‘tradisi dunia’, maka kita sebagai umat Kristiani harus sungguh menghargai karya penebusan Kristus yang sudah dijalankanNya dengan sempurna. Karena keyakinan akan Yesus tidak dapat dilepaskan dari kelahiranNya sebagai pemenuhan nubuatan para Nabi, Allah yang menjadi manusia Yesus (Matius 1:18-2:12 dan Lukas 1-2).
Walaupun secara ‘tradisi’ kita memperingatinya pada tanggal 25 Desember. Tetapi, marilah kita ‘memperingati’ kelahiranNya, yang dengan lebih berfokus pada syukur dan khidmat kepada Allah kita yang telah rela merendahkan diriNya sebagai manusia. Dan janganlah kita kehilangan makna ‘natal’ yang sesungguhnya, jadikanlah Natal selalu menjadi kabar baik bagi semua orang di sekitar kita, bahwa Allah telah membuktkan kasihNya dalam diri Yesus Kristus Tuhan kita.
Semoga damai dan riang-ria di suasana Natal ini menjadi berkat bagi semua umat manusia, terlebih bagi kita umat Allah yang telah ditebus.
Selamat Natal 2007
damai diBumi
sumber:sarapanpagi.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar