Setiap anak manusia dilahirkan sebagai anak ”dosa”. Keadaaan dosa umat manusia, yang melekat pada ibu-bapanya, melekat pada diri anak mereka juga. ”Dosa”, egoisme yang merajalela ratusan ribu tahun pada semua nenek moyang, melekat kepada anak itu. Ribuan generasi telah hidup dalam egoisme. Setiap generasi menambahkan lagi kepada lapisan tebal dosa-dosa itu bagiannya sendiri. Setiap generasi mempertebal lapisan dosa-dosa itu. Itulah dosa turunan, yang dapat kita bandingkan dengan segala hal lain yang diturunkan kepada seorang anak.
Pada setiap anak terdapat cap dan sifat bapa dan ibunya, yakni diraut wajahnya, perawakannya, keadaan badannya, kelemahannya, darahnya, tetapi juga tabiat dan wataknya. Bukan saja dari ibu bapanya, melainkan juga melalui ibu bapanya juga dari nenek moyangnya: dari kedua orang-tua dari ibunya dan dari kedua orang tua dari bapanya. Selanjutnya, semua generasi telah membawa bagiannya dalam kelahiran seorang anak. Hal ini berlaku bagi semua sifat yang telah disebut, tetapi pun bagi dosa.
Nenek moyang telah mulai berjalan salah. Anak-anak mereka kena noda orang tuanya. Mereka menjadi besar, mempertebal lagi lapisan perbuatan itu. Betapa tebal endapan dari dosa itu sesudah generasi yang banyak ini. Anak-anak mereka kena noda orang tuanya. Mereka menjadi besar, mempertebal lagi lapisan perbuatan itu. Betapa tebalendapan dari dosa itu sesudah generasi yang banyak ini. Anak yang dilahirkan dari Lamung, didesa Pitak, memiliki sifat bapanya, sifat suku Pitak dari dulu, dari semua generasi Indonesia, dari semua bangsa Asia, dari seluruh umat manusia. Semua cacat dan dosa sejak dahulu meninggalkan bekas, dan diturunkan kepada anak.
Apabila anak sudah besar, sudah berpikir, sudah memilih pendirian dan perbuatan sendiri, ia sering terbawa-bawa oleh sifat turunan itu, oleh ”dosa” itu, yang menjadi suatu kekuasan yang menguasainya juga. Kalau ia mengikuti jejaknya, ia meneguhkan dan menetapkan dan mempertebal keadaan dosa itu pula. Keadaan bagi anak-anaknya kemudian lebih sulit lagi
Ajaran Kristiani mengajarkan bahwa semua manusia berdosa, hanya Yesus lah dalam rupa manusia yang tidak berdosa, Ia telah dicobai hanya tidak berbuat dosa.
Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (ibrani 4:15)
Ajaran mengenai dosa asal atau dosa waris mungkin tidak bisa diterima oleh penganut keyakinan lain yang tidak mengerti dosa asal maupun kurban penebus dosa,sehingga bertanya ”kalau begitu bayi yang dilahirkan juga membawa dosa juga?”
Ada perbedaan mendasar antara "berdosa" dengan "berbuat dosa". Bayi itu sudah "berdosa" tetapi belum "berbuat dosa". Dosa merupakan suatu keadaan. Suatu kekuasaan yang membelenggu umat manusia.
Mazmur 51:7
”Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”.
Yohanes 3:6
”Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”.
Harap di bedakan antara "tabiat" berdosa dengan "perbuatan" dosa. Bayi yang baru dilahirkan tidak akan berbuat dosa tetapi ia sudah berada dalam "keadaan" atau "tabiat" dosa.
Contoh sederhana,siapa yang mengajar seorang anak berbohong?
Atau kumpulkan bayi-bayi yang sudah bisa merangkak atau berjalan, letakkan di suatu tempat dan berikan pula sesuatu – katakanlah mainan -- yang menarik perhatian mereka. Apakah yang mereka perbuat? Pasti bakal terjadi perebutan mainan, dan pasti bakal ada yang menangis karena tidak kebagian. Apakah yang menyebabkan semua ini?
Banyak pakar yang menyelidiki bahwa seorang anak berbohong tanpa diajar atau tanpa pengaruh lingkungannya. Demikian pula seorang anak kecil dapat saja merampas mainan temannya tanpa diajar oleh orang tuanya, melainkan atas dorongan di dalam dirinya sendiri. Inilah "tabiat dosa". Inilah yang menurut kalangan Kristiani disebut sebagai "dosa asal", "dosa waris", "dosa turunan" atau apa saja istilahnya, untuk membedakannya dengan "perbuatan dosa". Sekarang, kita kembali kepada Kitab Suci.
2. Bangsa Israel merupakan anak-anak dari suatu ”angkatan yang bengkok dan belat-belit” (Ulangan 32:5 ” Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.”). Nabi Hosea menyebut seluruh Israel dalam pandangan Allah sebagai ”bangsa yang berzinah, yang lupa akan Aku, mengikuti perempuan-perempuan yang jalang. Israel memberontak, seperti seekor sapi jantan yang keras kepala, tebal muka seluruh Israel di hadapan Aku. Israel telah mengotorkan diri, berlapis-lapis dosa mereka”.
Nabi Yeremia dan Yehezkiel mengatakan bahwa bukan nenek moyang Israel saja yang bersalah, melainkan semua orang Israel dari zamannya yang turut meniru dan memperkuat kesalahan-kesalahan itu. Mereka menetapkan lapisan dosa-dosa dari nenek moyangnya. Israel dalam dosa berdiri di hadapan Allah sebagai suatu keseluruhan bangsa yang berzinah, bangsa yang jahat.
Yesus menyambung teguran itu kepada orang-orang Farisi yang tidak mau percaya, dan meniru perbuatan nenek moyangnya. Teks Matius 23:29-36 berbunyi: ”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi.... dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Akan tetapi, dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek-moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh diantara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhnya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!”.
Demikian Yesus menjelaskan bahwa perbuatan mereka adalah lanjutan lansung dari dosa di seluruh sejarah Israel. Malahan diluar bangsa Israel terdapat hubungan dosa mereka: ”Mulai dari darah Habel, orang benar itu”. Sebab Israel sendiri berasal dari dunia kafir. Yang menyembah berhala. Abraham sendiri dilukiskan sebagai keturunan kafir. ”Dahulu, diseberang sungai Efrat, disitulah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain” (Yosua 24:2). ”Ayahmu ialah orang Armori dan ibumu orang Het” (keduanya berasal dari bangsa kafir), Sabda Yahwe (Yehezkiel 16:3).Hanya kerahiman Allah maka Israel diasingkan dari dunia kafir. Akan tetapi, Israel mengikuti kecenderungan dari dulu: mengikuti dewa-dewa kafir: menginjak-injak kepala orang lemah kedalam debu. (Amsal 2:6-7).
3. Santo Paulus dalam Roma 1-5 menyatakan bahwa seluruh dunia kafir, juga seluruh bangsa Yahudi dikuasai oleh dosa. ”Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada berbuat baik, seorang pun tidak... supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh kebawah hukuman Allah” (Roma 3:10-19).
Dalam seluruh uraiannya yang berikut, Santo Paulus melukiskan dosa sebagai suatu kekuasaan, seluruh keadaan yang meliputi seluruh umat manusia; suatu kekuasaan yang menaklukan seluruh dunia, malahan seluruh alam semesta. Keadaan dosa itu adalah keadaan terasing dari Allah berdasarkan segala kejahatan yang berlapis-lapis tertanam dalam diri umat manusia turun-temurun. Dosa itu melekat pada kita, sebelum kita melakukan suatu perbuatan. Dosa merupakan penyakit umum; seluruh dunia terjangkit olehnya. Tak seorangpun dapat melepaskan diri dari kekuasaannya.
Dosa dilukisan sebagai penjajah, tiran, penindas, raja yang ganas yang membelenggu seluruh dunia. Pengiringnya ialah kematian (Roma 5:12). Manusia menjadi hambanya, budaknya. ”Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat”. (1 Yohanes 5:19). Dosa itu sebagai ”raja dunia”, yang bertentangan dengan Kristus, yang pemerintahannya bukan ”dari dunia ini”.
Kalau Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus, lalu berseru: ”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” maka bukan dipakainya dalam bentuk jamak (dosa-dosa) sebagai perbuatan, melainkan bentuk tunggal: dosa, sebagai kekuasaan yang mengikat manusia. Yesus menghapus kekuasaannya.
4. Bukan secara umum saja dosa mengusai umat manusia, melainkan setiap kita terikat oleh belenggunya, baik mengenai keadaan maupun perbuatan kita yang memperkuat belenggunya.
Dalam doa Salomo ketika upacara pemberkatan kanisah, kita dengar : ”Apabila mereka berdosa kepada-Mu – karena tidak ada manusia yang tidak berdosa – dan Engkau murka terhadap mereka ..., Engkau kiranya mendengarkan di surga, tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan permohonan mereka” (1 Raja-raja 8:46-49). Teks ini bisa dibandingkan juga dengan Mazmur 14:1-3. Terlepas dari itu, dalam hati tiap-tiap orang terdapat kecenderungan kepada dosa.
Itulah sebabnya, orang Israel sungguh takut kepada Yahwe yang suci, yang besar kemuliaan-Nya. Keyakinan umum, yakni bahwa sinar kemuliaan Allah yang suci demikian besar, sehingga tak dapat dilihat oleh mata manusia. Kalau ia melihat, tentu ia harus mati. Seperti sabda nabi Yesaya dalam penglihatan: ”Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (Yesaya 6:5).
Maka, dosa menguasai manusia sejak ia ada dalam kandungan ibunya (Mazmur 51). Justru yang menganggap dirinya suci dan tidak berdosa, mereka itulah didalam belenggu dosa, tak lepas dari murka Allah (Markus 2:17). Sebab itu, Yesus mengucap sindiran terhadap ”orang yang sehat, yang tidak memerlukan dokter”.
5. Paulus juga mengalami bahwa dalam hatinya, biarpun ada kehendak berbuat baik, ia berbuat tidak baik. Pengalaman itu terdapat pada setiap orang. ”Aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat,melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Di dalam anggota-anggota tubuhku, aku telah melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada didalam anggota-anggota tubuhku” (Roma 7:14-25)
Dalam perbudakan kita oleh dosa, tampak pula kerahiman Allah. ”Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua” (Roma 11:32). Lagipula, ”Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu dibawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya”. (Galatia 3:22).
Yesus Kristus Penyelamat
Sabda Allah telah menjadi daging, artinya: Allah menyatakan diri bagi kita dalam manusia Yahudi dari Nazareth itu: Yesus. ”Allah adalah cinta kasih telah nyata bagi kita, bahwa Allah telah mengutuskan kepada dunia Putra-Nya yang tunggal.... menjadi perdamaian untuk dosa-dosa kita”.
Yesus menjadi ”Emannuel” (Allah beserta kita), bukan saja supaya Allah dalam diri yesus dekat kepada kita sebagai itu saja, melainkan untuk menyelamatkan kita dari dosa.
Manusia selalu berusaha menyelamatkan diri dari penderitaan: akibat dosa. Yesus menyelamatkan kita daripada pokoknya, yaitu dosa: dan dalam penyelamatan itu dijadikannya umat kita ”ciptaaan baru”.
2. Yesus menyelamatkan kita dari dosa. Dosa itu menurut definisi: tak taat pada kehendak Allah, yang dalam kehendaknya itu hanya merencanakan bahagia kita. Bahwa dosa itu telah menjadi penindas dan tiran.
Yesus menentang dosa itu dengan hidup-Nya, perbuatan-Nya dan pikiran-Nya, yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena Ia sabda Allah pribadi, pernyataan Allah secara pribadi maka seluruh pribadi-Nya menyatakan Allah dan kehendak-Nya. ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).
Justru itulah seluruh eksistensi Yesus: kehendak-Nya sendiri hanyalah kehendak Bapa. Ajaran-Nya hanyalah: ajaran Bapa. Perbuatan-Nya hanyalah: perbuatan Bapa. Demikian lengkap pernyataan Allah dalam diri Yesus sehingga sabda-Nya: ”Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia. Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yohanes 14:7-9)
Maka teranglah, bahwa ”dosa” lansung bertentangan dengan Yesus, dalam pribadi-Nya, perbuatan-Nya, pikiran-Nya, dan kehendak-Nya. Dalam seluruh eksistensi-Nya Yesus adalah ”Penyelamat dari dosa” , seperti pembahasan awal, bahwa Yesus dalam rupa manusiapun tidak berdosa.
3. Di mana Yesus bertemu dengan dosa, mulailah Ia bertindak melawan dosa itu. Di mana orang membuka hati bagi-Nya, di ampuni-Nya dosa: dan ampun dosa bagi Allah berarti: menghapus dosa. Kalau Yohanes sudah di bab pertama Injilnya mengutip perkataan Yohanes Pembaptis tentang Domba Allah maka Injil Markus dalam bab 2 menulis tentang orang lumpuh yang dibawa orang kepada-Nya. Ketika tampak oleh-Nya iman mereka itu, sabda-Nya kepada orang lumpuh: dosamu telah diampuni. Atas keberatan beberapa ahli taurat: ”Siapa dapat mengampuni dosa kecuali Allah sendiri?”, maka sabda-Nya: ”Anak Manusia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa”. (Anak Manusia adalah gelar Mesias yang dinubuatkan dalam kitab Daniel 7:13-14)
13 Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.
14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.
”Allah ialah cinta-kasih”: tak lebih terang kalimat itu daripada kenyataan, bahwa Yesus disebut ”sahabat orang-orang berdosa”, dan bahwa ia makan-makan dengan orang berdosa”, menjadi kawan semeja dengan mereka itu .Matius 11:19, 9:11 Lukas 7:48, 15:2. Tetapi selalu, karena cinta-kasih-Nya kepada manusia itu, maka sabda-Nya: ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi!” Yohanes 5:14, 8:11.
4. Kata asli ”Syaitan” berarti: penentang, itulah nama dalam bahasa ibrani untuk iblis, sebab ia menentang kehendak Allah. Itulah sebabnya, Yesus memandang iblis sebagai musuh yang harus ditentangnya.
Justru pengusiran iblis dari manusia disebutnya tanda bahwa dalam dirinya pemerintahan Allah telah datang. Itulah tanda yang disuruhnya kabarkan kepada Yohanes Pembaptis. Dimana Yesus datang maka terasa oleh iblis bahwa Terang mendekati kegelapan, dan ia mulai berteriak: ”Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" (Markus 1:23-24). Tetapi di sini pun ternyata cinta-kasih Allah dalam diri Yesus: Ia merasa sayang kepada orang yang menjadi korban kegiatan iblis.
Beberapa penyakit yang tertentu dianggap oleh orang Israel sebagai pengaruh Iblis. Dan betul: segala penderitaan adalah akibat dari dosa, sebab dosa menentang rencana-bahagia Allah dengan manusia. Yesus menentang dosa, tetapi juga penyakit dan penderitaan, karena Ia sayang kepada orang yang menderita. Segala orang yang menderita datang kepada-Nya, dan orang yang sakit dihantar kepada-Nya: ”ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakit, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: ”Engkau adalah Anak Allah”, (Lukas 4:40-41). Dengan menyembuhkan semua orang yang berpenyakit, Ia menentang dosa dalam akibatnya.
Malahan dikatakan, bahwa ”Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Matius 8:17).
5. Yesus menyerang kekuasaan iblis juga dalam kerajaan maut. Dosa telah masuk dunia dan melalui dosa: kematian, oleh satu orang. Maka, oleh satu orang, Yesus Kristus, manusia akan hidup dan memerintah lebih mulia, (Roma 5:12-17).
Hal itu sudah ditanda dalam segala tanda mukjizat, dalam mana Yesus membangkitkan orang-orang mati. Di situ juga ternyata cinta-kasih dan belaskasihan Allah dalam diri Yesus Kristus. Ia menghibur kaum-keluarga dari anaknya Yairus (Lukas 8:25). Dan Ia merasa belas kasihan kepada ibu dari Naim. (Lukas 7:13).
Justru dalam hubungan itu seluruh rakyat bersorak, bahwa Allah telah mengunjungi bangsanya sebagai Penyelamat, yang membawa kehidupan.
Maka, Paulus mengatakan: ”Yesus... tidak malu untuk menyebut mereka itu (manusia) saudara-saudara-Nya..... Karena anak-anak (manusia) itu adalah manusia dalam darah dan daging, maka Ia pun mengambil bagian dalam keadaan itu, supaya oleh kematian-Nya, mematahkan kekuasaan dari dia, yang berkuasa atas kematian, yaitu iblis. Dengan demikian, Ia menyelamatkan semua mereka, yang selama hidupnya, tertahan dalam perbudakan karena takut-mati” (Ibrani 2:11-15).
Demikian seluruh kehidupan Yesus sudah menjadi tanda bahwa Ia Penyelamat kita dari dosa dengan segala kekuatan-Nya. Akan tetapi seluruh hidup-Nya itu menuju kepada saat, yang Ia mati dan bangkit untuk membawa keselamatan kepada kita.
Inisiatif untuk menyelamatkan manusia daripada dosa, adalah dari Allah sendiri. Sabda Yesus kepada Nikodemus: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal itu, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16-17).
Ada lagu yang sangat indah, orang berpikir bahwa ini lagu untuk anak-anak , tetapi saya melihat ada orang dewasa yang menyanyikan lagu ini dan meneteskan air mata,
”Yesus sayang padaku, Alkitab mengajariku, walau ku kecil lemah, Aku tetap milik-Nya.”.
Dia yang selalu berdoa untuk kita, umat-Nya yang percaya kepada-Nya.
(Yohanes 17:1-26)
1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: "Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.
2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.
3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.
5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
6 Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik-Mu dan Engkau telah memberikan mereka kepada-Ku dan mereka telah menuruti firman-Mu.
7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu.
8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
9 Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu
10 dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.
11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
12 Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.
13 Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.
14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.
16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;
19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.
20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;
26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar