Dipersembahkan oleh Deshi Ramadhani, SJ
Wacana Biblika Vol.7 No.3 Juli-September 2007
Kidung Agung adalah salah satu kitab yang paling sulit ditafsirkan. Meskipun sangat pendek (hanya 8 bab yang mencakup 117 ayat), di dalamnya ditemukan 49 kata yang hanya muncul dalam kitab ini. Namun demikian, Kidung Agung adalah teks yang dalam sejarah Gereja justru menjadi salah satu teks terpenting.
Jumlah manuskrip (tulisan tangan) teks Kidung Agung dalam bahasa Latin jauh melebihi manuskrip kitab-kitab lain dalam Kitab Suci. Selama abad pertengahan, khotbah-khotbah yang disusun sangat didominasi oleh teks-teks Kidung Agung (bersama dengan Mazmur dan Injil Yohanes).
Pertanyaan besar yang menggelisahkan banyak orang adalah: “Bagaimana harus dijelaskan bahwa dalam tulisan yang diyakini sebagai tulisan suci ini justru digambarkan hal-hal yang sensual, seksual dan erotis?” Dari pertanyaan semacam ini segera lansung terlihat bahwa tampaknya ada sebuah konsep yang sudah umum diterima bahwa hal-hal yang erotis berada di kutub yang berlawanan dengan hal-hal yang suci. Membayangkan kesucian yang erotis adalah sesuatu yang tampaknya dirasa tidak mungkin.
Empat cara menafsirkan
Untuk memberi gambaran bisa disajikan di sini secara singkat empat macam penafsiran atas Kidung Agung. Pertama, penafsiran kultis. Hal ini didasarkan pada sebuah pemahaman bahwa di dunia Timur Dekat Kuno dikenal adanya praktik-praktik ritual kesuburan. Di dalam liturgi yang dirayakan setiap awal musim semi semacam itu diperagakan bahwa dewa alam semesta itu wafat dan diratapi oleh dewi kesuburan yang menjadi pasangannya. Kidung Agung kemudian ditafsirkan sebagai salah satu bentuk ritual kesuburan ini. Banyak orang yang meragukan tafsiran ini.
Kedua, penafsiran dramatis. Teks Kidung Agung diwarnai oleh ucapan-ucapan dua tokoh utama, sang perempuan dan sang laki-laki. Hal ini dipandang sebagai suatu tulisan yang serupa dengan teks drama. Muncul pendapat bahwa teks drama ini berkaitan dengan salah satu pesta perkawinan Raja Salomo sendiri. Pendapat lain mengatakan bahwa teks Raja Salomo mencoba merebut hati seorang perempuan Sulam untuk menjadi istrinya, tetapi perempuan itu memilih untuk tetap setia pada kekasihnya yang bekerja sebagai seorang penggembala. Karena tidak ada dasar yang cukup kuat untuk mendukung kemungkinan-kemungkinan ini, penafsiran dramatis ini pun tidak banyak diikuti orang.
Demikianlah tinggal dua kemungkinan. Ketiga, penafsiran alegoris dan Keempat, penafsiran literal. Karena pilihan antara kedua bentuk penafsiran inilah yang akan menentukan dalam mendekati persoalan kaitan antara kesucian dan eros, kedua penafsiran ini akan dibahas secara lebih rinci dalam bagian-bagian berikut ini.
Penafsiran alegoris
Dengan pendekatan alegoris, teks Kidung Agung dibaca sebagai teks yang menunjuk pada sebuah kenyataan lain yang tersembunyi dalam bahasa-bahasa simbolis.Secara khusus di sini adalah gambaran tentang hubungan antara Allah dan manusia dalam bahasa simbolis sebagai hubungan antara suami dan istri.
Penafsiran alegoris ini berkembang subur dalam dunia monastik. Dalam kurun waktu 20 tahun, Bernard dari Clairvaux menyusun 86 khotbah berdasarkan Kidung Agung. Ketika ia wafat, khotbah-khotbahnya itu baru sampai pada awal bab 3 dari Kidung Agung. Gilbert dari Hoyland melanjutkan usaha ini dan menyusun 47 khotbah. Ia wafat ketika khotbahnya sampai apda ayat 9 dalam bab 5 Kidung Agung. John dari Ford kemudian menuntaskannya sampai akhir Kidung Agung dan berdasarkan pada bahan-bahan itu, ia menyusun 120 Khotbah.
Hubungan yang benar-benar intim dan sungguh personal antara manusia dan Allah hanya mungkin bila manusia masuk kedalam hubungan itu dengan seluruh emosi, afeksi dan gairah (passion). Tanpa unsur-unsur ini, hubungan antara manusia dan Allah hanya akan terbatas pada sebuah hubungan yang dingin, tidak personal, dan sungguh formal. Dalam konteks semacam inilah Kidung Agung menyediakan sebuah ruang yang sungguh luas untuk bertumbuh.
Maka tidaklah mengherankan bila Kidung Agung yang dalam pandangan umum sangat sensual, seksual, erotis ini justru sangat dicintai dan dijadikan bahan penting untuk renungan-renungan hidup rohani dalam biara monastik. Dalam Kidung Agung, seorang pembaca ”dapat melakukan identifikasi dengan perasaan-perasaaan sejoli-sejoli yang sangat saling mencintai ini, dan menemukan di dalamnya juga perasaan-perasaan cintanya sendiri terhadap Allah”
Rabi Akiba dalah seorang tokoh yang dengan gigih memperjuangkan pe-nafsiran alegoris atas Kidung Agung. Ia memberi peringatan keras: ” Barangsiapa melantunkan Kidung Agung dalam rumah-rumah pesta, dan memperlakukannya sebagai sebuah lagu biasa, tidak akan mendapat bagian di dalam dunia yang akan datang.” Tafsiran Kidung agung sebagai sebuah alegori agamawi atau alegori historis dilanjutkan dalam komentar-komentar yang dihasilakan oleh Rashi (wafat 1105 M) dan ibr Ezra (wafat 1168 M).
Tafsir alegoris ini banyak dikembangkan lebih jauh oleh para Bapa Gereja. Santo Hieronimus (wafat 420M) dan Santo Agustinus (wafat 430 M) adalah pendukung setia penafsiran alegoris ini. Dalam cara penafsiran ini tidak jarang dihasilkan berbagai pemahaman yang menurut ukuran orang modern dirasa janggal atau berlebihan. Misalnya, kedua buah dada sang perempuan adalah simbol untuk Musa dan Harun, atau simbol untuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kesucian Kidung Agung, kerena dipahami secara alegoris, membuat Rabi Akiba berani mengatakan dengan penuh keyakinan:
” Tidak ada seorang pun di Israel yang boleh mempersoalkan status Kidung Agung... karena seluruh dunia ini seolah tidak ada artinya pada hari ketika Kidung Agung dianugerahkan kepada Israel; karena seluruh tulisan adalah kudus, tetapi Kidung Agung adalah yang paling kudus dari antara yang kudus itu”
Arti alegoris di dalam Kidung Agung jelas, yakni bahwa gairah yang tertuang di dalamnya memperlihatkan kerinduan Allah (sebagai laki-laki) yang sungguh jujur untuk bertemu dan bersatu dengan manusia (sebagai perempuan). Namun demikian, apakah bahasa erotis, sensual, seksual, yang semacam ini bisa masuk kedalam kesadaran rohani? Dengan kata lain, apakah sebuah pertumbuhan rohani bisa dihayati dalam hubungan dengan Allah yang sangat penuh gairah erotis seperti ini?
Kidung Agung justru mengajarkan bahwa Allah yang Mahasuci itu adalah juga Allah yang Mahaerotis, namun disini kembali muncul persoalan lain sehubungan sehubungan dengan arti kata erotis itu sendiri. Bila dipahami bahwa eros adalah sebuah gerakan yang akhirnya bermuara pada pengagguman akan diri sendiri, Allah yang erotis adalah Allah yang mengagumi manusia karena di dalam manusia itulah Allah melihat gambaran diri-Nya sendiri dan karenanya dengan jujur serta penuh gairah Ia mengaggumi manusia. Dalam arti inilah cinta Allah adalah agape dan eros bersama-sama. Inilah juga dikatakan oleh Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est. Seruan Yesus agar manusia menjadi sempurna seperti Bapa sempurna adanya dengan demikian bisa dipahami secara lebih spesifik; jadilah kudus dan erotis, seperti Bapa di surga juga kudus dan erotis.
Seorang tokoh mistk dari abad ke 13, Mechtild von Magdeburg dalam salah satu penglihatannnya menggambarkan bagaimana jiwa perempuannya berkata kepada kekasih ilahinya bahwa dirinya siap untuk bersetubuh. Dalam penglihatan itu, sang kekasih ilahi tersebut:
”... mengangkatnya ke dalam rangkulan tangan-tangan ilahi-Nya, menempatkan tangan-Nya yang kebapakan pada buah dadanya, dan menatap wajahnya. Amatilah bagaimana ia dicium di bagian itu, Dengan ciuman ini ia diangkat ke tempat yang mahatinggi melampaui padauan suara para malaikat”
Tentu saja ini memperlihatkan bahwa penafsiran alegoris sampai pada tingkat mistis semacam ini tidaklah untuk semua orang. Sebuah tingkat kedewasa-an rohani dibutuhkan disini.Demikian pula dibutuhkan keseimbangan psikologis yang memadai. Meskipun demikian sebuah kenyataan tidak bisa ditolak. Penafsiran alegoris ini sangat erat terkait dengan gambaran antara Kristus dan Gereja-Nya yang juga digambarkan sebagai hubungan antara suami istri.
Salah satu kritik terhadap penafsiran alegoris lansung menunjuk pada dimesi sensual, seksual, erotis dalam Kidung Agung. Penafsiran alegoris muncul karena orang merasa tidak nyaman membaca suatu yang sangat seksual dalam hubungan antarmanusia sebagaimana digambarkan secara gamblang dalam teks Kitab Suci. Dengan kata lain, penafsiran alegoris ini memiliki ciri deseksualisasi teks Kidung Agung. Segala sesuatau yang sangat sensual, seksual, erotis ditempatkan dalam tataran rohani. Apa yang bergerak pada tataran roh. Karena ketidakpuasan terhadap penafsiran alegoris inilah lalu muncul penafsiran yang lebih literal.
Penafsiran literal
Tidak mudah menerima begitu saja penafsiran literal. Theodorus (uskup Mopsuestia; wafat sekitar tahun 429 M) mengatakan bahwa Kidung Agung harus dibaca secara literal karena merupakan puisi cinta yang disusun oleh Raja Salomo yang sedang berusaha membela diri sehubungan dengan pernikahannya dengan salah seorang putri Firaun. Karena penafsiran literal semacam ini Theodorus dihukum, bahkan sesudah ia wafat ia masih dihukum secara tegas oleh Konstantinopel II (553 M).
Seorang humanis dan penerjemah Kitab Suci dari kalangan Protestan, Sebastian Castellio, mengatakan bahwa Kidung Agung adalah ”puisi yang sangat menggoda (lascivious) dan seronok (obsecene) yang di dalamnya Salomo menggambarkan cintanya yang tidak semestinya (indicent)”. Castellio bahkan lebih jauh mengusulkan agar Kidung Agung disingkirkan dari kanon Kitab Suci. Ini menjadi salah satu pemicu sampai ia harus meninggalkan Jenewa. Dua contoh reaksi keras ini memperlihatkan ketidaksiapan untuk menerima tafsiran literal.
Baik pula diperhatikan di sini bahwa persoalannya bukanlah terutama pada persoalan literal itu sendiri, tetapi pada implikasinya. Bila ditafsirkan secara literal akan muncullah sebuah puisi cinta yang sarat dengan nuansa sensual, seksual, erotis. Akibatnya timbul kesulitan untuk mempertanggungjawabkan kedudukannya di dalam Kitab Suci. Sikap ini dilandasi oleh sebuah konsep yang mempertentangkan antara erotisme dan kesucian. Dengan konsep semacam ini orang senantiasa dihadapkan pada sebuah pilihan, antara menjadi erotis tetapi tidak suci, atau menjadi suci tetapi tidak erotis. Artinya, kesucian itu secara mendasar bersifat aseksual; seksualitas tidak boleh masuk ranah kesucian, karena keduanya adalah dua wilayah yang saling bertentangan. Benarkah demikian?
Gairah cinta dan seks
Di sini ada kesulitan dalam hal terjemahan. Perkataan Ibrani dodim daam Yeh, 16:8 pada umumnya diterjemahkan sebagai ”cinta” (love). Dalam konteks Kidung Agung bisa diterjemahkan secara lebih spesifik menjadi cinta berahi, sebagaimana halnya dalam terjemahan bahasa indonesia (TB). Hal ini sejalan dengan keyakinan Bloch dan Bloch mengatakan bahwa dodim menunjuk secara lebih spesifik pada ”cinta seksual” Saya sendiri cenderung untuk menerjemahkan dodim ini secara spesifik dalam muatan sensual, seksual, erotisnya sebagai ”gairah cinta berahi”. Maka ayat berikut ini bisa dibaca kembali secara demikian:
4:10 [Laki-laki kepada perempuan]
Betapa nikmat gairah cinta berahimu,
dinda pengantinku!
Jauh lebih nikmat gairah cinta
berahimu daripada anggur
Dan lebih harum bau minyakmu
daripada segala macam rempah.
Hal yang sama untuk 1:2 ( karena gairah cinta berahimu lebih nikmat daripada anggur); 1:4(kami akan memuji gairah cinta berahimu lebih daripada anggur); 5:1 (minumlah sampai mabuk gairah cinta berahi!); 7:13 [7:12] (disanalah aku akan memberikan gairah cinta berahiku kepadamu).
Dalam Kidung Agung, perkataan Ibrani dodim baru memperlihatkan gairah cinta berahi. Artinya, perkataan dodim itu sendiri pada dasarnya belum menunjuk pada sebuah tindak persetubuhan secara nyata. Penggunaan perkataan ini dalam Ams 7:18 tentu saja jauh lebih spesifik. Digambarkan di sana ada seorang perempuan nakal yang ingin berselingkuh selagi suaminya pergi jauh dan berkata kepada laki-laki (muda) yang sedang digodanya. Terjemahan indonesia (TB) secara sangat spesifik mengatakan, ”Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari.” Di sini dodim menunjuk pada tindak persetubuhan.
Konteks persebutuhan juga sangat jelas dalam Yeh 32:17a. Dalam sebuah perumpamaan tentang ketidaksetiaan Israel dikatakan demikian: ” Maka orang Babel datang kepadanya menikmati tempat tidur percintaan dan menajiskan dia dengan persundalan mereka”. Lebih spesifik lagi bisa diterjemahkan menjadi ”tempat tidur gairah cinta berahi”. Yang dimaksud sebagai percintaan di sini tidak lain adalah persetubuhan.
Demikian dodim dalam Ams 7:18 dan Yeh. 23:17a ini bukan hanya menunjuk gairah cinta berahi secara spesifik sebagai sebuah tindak persetubuhan, melainkan juga lebih jelas menggambarkan persetubuhan di luar ikatan perkawinan. Maka pertanyaannya, apakah dodim dalam Kidung Agung menunjuk pada tindak persetubuhan atau melulu terbatas pada sebuah hasrat atau dambaan atau kerinduan untuk melakukan tindak persetubuhan itu?
Perdebatan tentang hal ini bisa didasarkan pada Kid. 5:1. Metafora sebuah situasi pesta bisa ditangkap sebagai indikasi akan suatu pemuasan atau pemenuhan. Di samping itu, ungkapan-ungkapan seperti ”datang” atau ”masuk” sering kali merupakan sebuah penghalusan untuk menunjuk pada tindakan seksual persetubuhan.
Saya berpendapat bahwa dodim dalam konteks penggambaran sebuah penyelewengan berarti jelas sebagai gairah cinta berahi yang tak terpisahkan dari persetubuhan. Dalam Kidung Agung tidak ada konteks penyelewengan. Berarti, dodim bisa tetap diterjemahkan secara umum sebagai cinta, atau secara spesifik sebagai gairah cinta berahi. Tidak ada indikasi sama sekali tentang sebuah pemuasan kerinduan dalam tindak persetubuhan.
Erotis, seksual, kudus
Kidung Agung menggambarkan cinta manusia yang sungguh penuh gairah. Di sini ditemukan sebuah ajaran bahwa cinta ilahi menjadi nyata dalam cinta manusia. Cinta manusia adalah ungkapan cinta Ilahi. Ketidakhadiran Allah di dalam Kidung Agung justru ingin memperlihatkan bahwa di dalam cinta manusia itulah Allah justru sungguh hadir. Kidung Agung justru menjadi bukti akan kekudusan dan kesucian manusia.
Rabi Marc Gafni, seorang guru spiritual Yahudi yang dikenal luas lewat dua bukunya Soul Prints dan The Mystery of Love mengatakan:
“Eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya, yang erotis dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama. Maka, hidup yang erotis adalah hidup yang sakral. Bahkan, tanpa eros kesucian kita Cuma ecek-ecek, tidak jenuin dari jiwa yang terdalam. Tanpa eros, kesalehan kita pura-pura saja, tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional-organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng- topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu,tatanan semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meski dari luar terlihat masih utuh.”
Kitab Kidung Agung mungkin menemukan jalan untuk diterima masuk ke dalam kanon Kitab Suci karena adanya penyebutan figur Raja Salomo. Kidung Agung dipahami dalam kaitannya yang sangat erat dengan Amsal dan Pengkotbah, karena diyakini bahwa di dalam tulisan-tulisan ini figur Salomo sangat berperan penting.
Tampaknya untuk sampai pada pembacaan dan penghayatan Kidung Agung sebagai tulisan suci yang mengundang manusia untuk menjadi orang suci yang erotis masih harus menempuh jalan yang panjang. Persoalan ketegangan antara kerinduan dan pemuasan tetap akan mewarnai perjalanan cinta, baik dalam hubungan cinta antarmanusia maupun antara manusia dan Sang Ilahi. Konsep manusia modern tentang erotisisme benar-benar membutuhkan pembebasan untuk bisa dipahami sebagai sebuah daya energi yang ilahi dan suci. Sementara penafsiran alegoris dirasa terlalu tinggi, penafsiran literal pun membutuhkan kesiapan hati untuk dihayati. Bila Anda siap, selamat merayakan kembali kejujuran erotis Kidung Agung sebagian jalan menuju kesucian hidup Anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar