Hari Minggu Biasa III, 27 Januari 2008
Pendalaman Kitab Suci Vol 23, No.1, Januari-Februari 2008
Ketaatan dalam dunia kita sekarang ini mungkin sesuatu yang selalu dituntut dan banyak didengung-dengungkan di berbagai bidang kehidupan. Ironisnya, begitu sulit kita menemukan orang yang benar-benar taat dalam hidupnya. Hal paling nyata dapat dilihat di jalan-jalan di berbagai tempat di negeri ini, Berapa banyak pengendara dan pejalan kaki yang taat pada aturan berlalu lintas yang ada?
Kita mungkin dapat sedikit disejukkan dengan adanya orang-orang secara khusus mengucapkan janji, misalnya untuk hidup membiara. Betapa tidak, di tengah-tengah sulitnya menemukan sikap taat dalam kehidupan harian, masih ada orang yang dengan kesadaran sendiri mengucapkan janji-janji untuk taat. Namun demikian, ketaatan tersebut masih mesti dibuktikan dalam praktik hidup selanjutnya. Dan, hal ini berlaku juga bagi kita semua yang mengaku diri sebagai orang Kristen. Sikap taat yang dicontohkan oleh Yesus akan kita temukan dalam bacaan hari ini. Bersamaan dengan itu, juga akan mengetahui sikap apakah yang Ia tuntut dari kita, para pengikut-Nya.
Matius 4:12-23
12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.
13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,
14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
15 "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, —
16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka
22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.
Struktur Teks
Perikop ini dapat dibagi ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama adalah ay. 12-17 yang masih dibagi lagi ke dalam tiga bagian. Ay. 12 merupakan peralihan dari bagian sebelumnya sekaligus mempersiapkan kisah yang akan muncul. Ay. 17 adalah pernyataan ini, merupakan kata-kata pewartaan Yeus yang pertama kali. Ay. 13-16 adalah dasar bagi pewartaan Yesus dalam ay.17
Sementara itu, ayat 18-23 adalah kisah panggilan empat murid yang pertama. Kisah ini sendiri terbagi dalam tiga bagian. Ay. 18-20 adalah panggilan Simon dan Andreas, yang sejajar dengan ay. 21-22 yakni panggilan Yakobus dan Yohanes, anak Zebedeus.
Ulasan Teks
Galilea, tempat pewartaan Yesus yang pertama.
Penangkapan Yohanes menyebabkan Yesus pergi ke Galilea. Penggunaan kata “ditangkap” di sini memiliki maksud tertentu. Kelak Yesus juga akan mengalami penangkapan. Perginya Yesus bukan karena keinginan-Nya sendiri. Yesus pergi ke Galilea karena suatu alasan yang sangat penting. Begitulah rencana ilahi, bahwa Ia harus berkarya di ”Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain”. Kepindahan Yesus ke Kapernaum pun demikian. Tidak ada alasan pribadi Yesus untuk pindah dari Galilea dan menetap di Kapernaum. Semuanya terjadi karena demikianlah rencana ilahi.
Istilah ”Galilea wilayah bangsa-bangsa lain”, yang merupakan kesimpulan atas empat tempat sebelumnya, adalah sesuatu yang sangat penting bagi Matius. Dengan pernyataan itu, Matius tidak bermaksud menunjuk pada Galilea yang penduduknya adalah bangsa-bangsa lain (non Yahudi) atau bahwa Yesus melaksanakan karya pelayanan-Nya bagi bangsa-bangsa lain itu. Bagi Matius, sangat jelas bahwa Yesus adalah Mesisas bagi Israel. Ia mengajar di sinagoga-sinagoga dan melarang murid-murid-Nyan bekerja di luar Israel (10:5). Dengan kutipan ini, Matius hanya mau menyampaikan bahwa dengan kedatangan Yesus, telah dimulai suatu tahap dalam sejarah keselamatan, yaitu keselamatan bagi bangsa-bangsa lain.Kelak di Galilea, Tuhan yang telah bangkit menyuruh murid-murid-Nya untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid-murid-Nya (20:16-20). Dalam perspektif masa depan itulah Yesus memulai pewartaan-Nya dalam ay.17.
Sejak itu Yesus mulai dengan perwartaan-Nya tentang Kerajaan Surga. Ia mengambil alih pewartaan Yohanes Pembaptis dalam 3:2 . Bagi Matius, Kerajaan Surga adalah sesuatu yang masih akan datang (hanya dalam 11:12 dan 12:28 pembaca mendapat informasi bahwa Kerajaan Surga sudah mulai pada saat ini). Saat datangnya Kerajaan Surga itu adalah saat kebenaran, yaitu ketia Allah menyatakan diri-Nya pada hari pengkahiman. Lalu mengapa Kerajaan Surga dan nbukan injil? Alasannya adalah untuk memperkenalkan bahwa pewartaan Yohanes Pembaptis dan pewartaan Yesus sangat dekat hubungannya. Selain itu, injil bagi Matius tak lain adalah pewartaan Yesus tentang Kerajaan Surga itu sendiri dan tak dapat dipisahkan darinya. Karena itu, seruan ”bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (ay. 17) adalah suatu rumusan yang memuat secara lengkap arti kepercayaan kepada injil. Pertobatan yang ditempatkan pada tempat pertama menunjuk pada pentingnya pertobatan tersebut. Pertobatan merupakan pintu masuk bagi pengajaran yang akan disampaikan oleh Yesus. Pengajaran itu adalah tentang kebenaran yang tertinggi yang akan nyata dalam hidup semua orang Kristen. Menurut rencana Allah yang benar, yang menang atas kuasa setan, mesti diwartakan datangnya Kerajaan Surga di Galilea.
Kisah panggilan keempat murid yang muncul dalam perikop ini memiliki kesejajaran dengan kisah panggilan Elisa bin Safat dalam 1 Raj. 19:19-21. Namun, ada beberapa perbedaan yang disengaja oleh Matius, untuk menegaskan panggilan menurut versinya dan juga untuk membedakan Yesus dengan Elisa.
Elia mengizinkan Elisa untuk mengucap-kan salam perpisahan kepada ayahnya, sementara dalam kisah Matius, keempat murid segera mengikuti Yesus (kedua anak Zebedeus pun tidak pamit pada ayah mereka). Matius bahkan membuat penegasan dalam 8:21-22, yaitu dalam jawaban Yesus terhadap seseorang yang ingin mengikuti-Nya, namun pertama-tama mau menguburkan ayahnya terlebih dahulu. Yesus waktu itu berkata, ”Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Panggilan Elia kepada Elisa adalah panggilan model Perjanjian Lama. Perjanjian Baru memiliki ciri khasnya sendiri, Sebab, Mesias menuntut lebih dari yang dituntut Elia kepada Elisa; Dia menuntuk ketaatan yang radikal.
Davies, W.D &Dale C. Allison
Matthew: A shorter Commentary,
Panggilan para murid di tepi Danau Galilea
Kisah panggilan keempat murid Yesus yang pertama diungkapkan oleh Matius secara singkat. Dalam kisah ini, Simon sudah lansung disebut sebagai Petrus. Yesus bertemu dengan para murid pertama ini sementara mereka sedang membereskan jala mereka. Mendengar ajakan – atau lebih tepatnya panggilan – Yesus, Simon dan Andreas segera mengikuti-Nya. Yesus memangggil mereka dari pekerjaan mereka- sebagai penjala ikan- dan ingin agar mereka menjadi penjala manusia. Jala di sini adalah petunjuk bahwa yang dimaksudkan adalah kegiatan misi (bdk. 13:47).
Perlu ditekankan juga bahwa Yesuslah yang pertama melihat mereka. Inisiatif panggilan selalu berawal dari Yesus, para murid menanggapi dan mengikuti panggilan tersebut. Hal ini berbeda dengan praktik rabanik pada zaman itu, di mana muridlah yang memilih guru. Kisah panggilan keempat bersaudara ini berjalan dengan alur yang sejajar. Informasi tentang kekayaan keluarga Zebedeus (Mrk 1:16-20) di hilangkan oleh Matius karena yang ingin ditekankan olehnya adalah ketaatan radikal pada Yesus yang tampak dari kata ”segera mengikuti”.
Amanat
Perjalanan hidup Yesus menampakan penyerahan diri-Nya kepada karya dan rencana ilahi yang total. Sejak masih dalam kandungan, kehidupan Yesus begitu diwarnai dengan kepatuhan kepada kehendak Allah itu. Begitu pun yang dialami oleh Yesus di awal karya pelayanan-Nya. Kepindahannya yang berawal dari penangkapan Yohanes tidak dimengerti sebagai usaha Yesus untuk menghindari penangkapan. Malahan penangkapan ini merupakan pertanda bahwa Yesus kelak akan mengalami hal yang sama. Kepindahan Yesus merupakan suatu bentuk ketaatan dan penyerahan diri-Nya yang total pada penyelenggaraan ilahi. Yesus sekali lagi memberi teladan bagaimana memenuhi kehendak Allah secara sempurna.
Penyerahan diri yang sempurna inilah yang kelak dituntut oleh Yesus dari oerang-orang yang mau mengikuti-Nya. Kisah panggilan murid yang pertama memperlihatkan kepada kita bahwa untuk mengikuti Yesus dibutuhkan suatu ketaatan yang radikal. Bagi orang Kristen, di mana Injil Kerajaan Surga diwartakan (ay.17), di sanalah manusia dituntut untuk bersikap taat sepenuhnya. Dengan cara seperti inilah suatu komunitas umat beriman akan lahir dan bertumbuh.
Tetapi, panggilan itu tidak berlaku khusus bagi para murid saja (kelompok dua belas). Matius sering menggunakan kata ”mengikuti” baik bagi para murid, maupun orang-orang banyak. Artinya, mengikuti Yesus sebagai rasul sama sekali tak memisahkan mereka dari masyarakat.
Jika demikian, pesan bagi kita, orang Kristen zaman ini, sangatlah kuat. Pertama-tama, yang dituntut dari kita adalah suatu ketaatan yang radikal. Ketaatan radikal yang dimaksud adalah dalam hal mengikuti Yesus. Kita diminta untuk menjalani jejak-jejak yang telah ditunjukan oleh-Nya. Tuntutan bagi orang Kristen adalah menghadapi dunia ini dengan segala perjuangannya, dengan semangat yang telah diteladankan oleh Yesus kepada kita lewat contoh hidup-Nya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar