Sumber: majalah pendalaman Kitab Suci Vol.23,No.1, Januari-Februari 2008
Kisah pembaptisan Yesus mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Kita tahu bahwa Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Setelah pembaptisan itu, menyusul Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam rupa burung merpati, serta ada suara yang terdengar dari surga. Demikian kisah yang sudah tertanam akrab dalam benak kita.
Pertanyaannya, pernahkah kita menanyakan makna kisah pembaptisan ini? Kisah ini sebenarnya adalah kisah yang penuh makna dan punya peranan penting dalam karya pelayanan Yesus selanjutnya. Dengan mencermati perikop ini, kita akan dituntun untuk menggali lebih jauh makna baptisan Yesus, beserta kejadian-kejadian yang mengiringinya. Mungkin dengan demikian bacaan ini tidak sekedar dijadikan dasar untuk mengusulkan bentuk permandian yang sama, seperti yang diterima Yesus di Sungai Yordan (seluruh badan ditenggelamkan ke dalam air).
Matius 3:13-17
13 Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya.
16 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
17 lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Struktur Teks
Perikop singkat ini terdiri atas dua bagian yaitu:
- Ay. 13-15 : Dialog antara Yohanes dan Yesus, serta pembaptisan Yesus.
- Ay. 16-17 : Kisah tentang turunnya Roh Kudus dan suara surgawi.
Ulasan Teks
Genapilah seluruh kehendak Allah!
Perikop ini lansung dibuka dengan sebuah penekanan. Matius menegaskan bahwa intensi Yesus datang kepada Yohanes adalah untuk dibaptis olehnya. Yesus datang dari Galilea kepada Yohanes bersama dengan orang-orang lain yang juga hendak dibaptis Yohanes. Tetapi, Yohanes mencegah Yesus (lebih tepatnya: berusaha mencegah), Mengapa? Telah kita dengar dalam bacaan injil hari Minggu Advent II tentang pewartaaan Yohanes. Ia menubuatkan tentang seorang yang akan datang. Orang ini akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (3:11). Ia jauh lebih besar daripada Yohanes. Disini, secara implisit Yohanes mengenali Yesus sebagai seorang yang akan datang itu. Maka dari itu, Yohanes mencegah Yesus. Ia tak mungkin membaptis seseorang yang lebih kuat atau lebih besar darinya, seseorang yang membawa Roh Kudus dan kelak akan membaptis dengan api. Yohaneslah yang seharusnya dibaptis oleh Yesus. Kita juga dapat menyimpulkan bahwa kemungkinan besar Yohanes ingin menerima pembaptisan, seperti yang ia wartakan akan dibawa oleh seseorang yang jalan kedatangan-Nya ia persiapkan.
Yesus menjawab keberatan Yohanes dengan sebuah pernyataan yang penuh daya kuasa. Kata-Nya, ”Sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Bagi Matius, kata ”menggenapi” hampir selalu berarti ”menggenapi nubuat”, tidak sekedar mengerjakan atau mematuhinya. Frasa ”kehendak Allah” cukup sering dipakai oleh Matius (5:10,20;6:1,33;21:32). Istilah tersebut berasal dari kata yang sama dengan ”kebenaran” dalam surat-surat Paulus, namun memiliki arti yang berbeda. Dengan menggunaan kata ini, Matius merujuk pada suatu cara hidup yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu yang diwartakan oleh Yesus. Jadi, Yesus menerima baptisan Yohanes, yang notabene adalah baptisan pertobatan, dengan alasan yang berbeda dari orang-orang lain. Yesus juga bukanlah seorang pengagum Yohanes yang ingin bergabung ke dalam kelompoknya menjadi salah satu muridnya.
Dengan menerima baptisan Yohanes, Yesus memberi teladan bagaimana memenuhi seluruh kehendak Allah. Tapi, perkataaan Yesus tadi mesti dipahami bahwa bukan hanya Yesus yang harus patuh pada kehendak Allah. Semua orang yang ada disana punya peran yang sama, baik Yesus, Yohanes, maupun pembaca Injil Matius. Ketaatan Yesus pada kehendak Allah ini adalah juga contoh ketaatan orang Kristen.
Inilah Anakku!
Yohanes kemudian ”menuruti” (arti harfiah: ”membiarkan”, sejajar dengan ”biarlah hal ini terjadi”) kemauan Yesus. Setelah dibaptis, Yesus segera keluar dari air. Kejadian luar biasa pun segera mengikuti, yaitu turunnya Roh Kudus dan terdengar dari suara dari surga. Dalam peristiwa Yesus ini, Matius setidaknya merujuk pada dua peristiwa dalam Perjanjian Lama. Pertama, Roh Allah yang melayang-layang diatas air. Dari sanalah segala ciptaan berasal (Kej. 1:3, Yes. 43:16-20). Kedua, Israel yang menjadi anak Allah dengan peristiwa keluaran dari Mesir, yaitu peristiwa penyeberangan Laut Terberau.
Setelah Yesus keluar dari air, ”pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya” (ay.16). Disini Matius hendak menyatakan bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus adalah sesuatu yang dapat dilihat, bukan suatu penglihatan. Turunnya Roh Kudus adalah peristiwa yang nyata. Selain itu, Matius tidak hendak membahas Roh Kudus yang dilambangkannya dengan burung merpati. Tekanan Matius adalah pada peristiwa turunnya Roh Kudus saja. Pertanyaan kita selanjutnya adalah mengapa Yesus juga dikandung dari Roh Kudus masih harus diperlengkapi dengan Roh Kudus lagi? Konteks dekat perikop kita dapat memberi jawaban: Yesus adalah Dia yang akan membaptis dengan Roh Kudus (3:11), dan Ia akan segera melaksanakan tugas pelayanan-Nya dalam Roh (4:1;12:28).
Penggunaan kata ”terdengarlah” semakin menegaskan maksud Matius bahwa peristiwa itu nyata. Kata-kata ”Inilah Anakku..” adalah khas Matius (berbeda dengan Mrk. 1:11 yang berbunyi, ”Engkaulah Anak-Ku...”). Pernyataan ini menunjukan kepada kita bahwa peristiwa turun-Nya Roh Kudus dan terdengar suara surgawi bukanlah saat pengangkatan Yesus sebagai Anak Allah. Sudah sejak awal Yesus adalah Anak Allah (2:15). Maksud suara dari surga (suara Allah sendiri) adalah untuk memperkenalkan Yesus kepada semua orang di sana bahwa Ia adalah Anak Allah. Ini adalah sebuah pengumuman. Sebutan ”anak” ini memiliki kesejajaran dengan Yes. 42:1, Kata ”anak” juga punya hubungan kuat dengan ”hamba”, sehingga suara surgawi itu juga sekaligus sebagai perkenalan Yesus sebagai hamba yang kepada-Nya Allah berkenan,dan kepada-Nya dianugerahkan Roh Allah sendiri.
Amanat
Mengapa Yesus mau dibaptis oleh seorang yang lebih kecil dari-Nya? Ya, tak lain adalah demi mengenapi kehendak Allah. Sebenarnya setelah ekdatangan Yesus yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api, makna baptisan air yang diberikan oleh Yohanes telah hilang. Namun dengan dibaptis oleh Yohanes, Yesus melakukan kehendak Allah secara penuh. Ia adalah teladan dalam hal melaksanakan kehendak Allah. Ia tidak hanya mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk itu, tetapi sebelum mengajar mengajar, Yesus telah memberi teladan bagaimana Ia telah menggenapi seluruh kehedak Allah. Kisah-kisah dalam Kitab Suci adalah kisah yang sarat dengan bukti ketaatan Yesus pada kehendak Allah.
Peristiwa yang terjadi setelah pembaptisan Yesus dalah suatu perkenalan Yesus sebagai Anak Allah. Lewat perikop ini, Matius hendak berbicara mengenai ”status” Yesus sebagai Anak Allah. Yesus menjadi Anak Allah bukan hanya karena adanya maklumat dari surga (bdk. 2:15;16:16;17:5), tetapi lebih khusus karena sikap-Nya yang menyerahkan diri dalam kepatuhan kepada kehendak Allah. Yesus dalah seorang yang taat dan rendah hati. Persis karena ketaatan inilah Allah menanggapinya dengan memaklumkan, ”Inilah Anak-Ku yang terkasih”. Ketaatan Yesus inilah pusat perhatian kristologi Matius. Cara hidup kristiani, menurut Matius , adalah cara hidup yang sempurna. Yesus menjalankan tugas pelayanan-Nya sebagai seorang hamba. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (20:28).
Sikap rendah hati adalah disposisi batin yang perlu bagi setiap pengikut Kristus, terutama bagi siapa saja yang memiliki peranan penting dalam keberlansungan hidup umat. Sikap rendah hati ini akan memampukan kita untuk melakukan tugas-tugas kita dengan sepenuh hati. Selain itu, dengan sikap itu pula, kita dapat selalu berusaha untuk melakukan tugas pelayanan yang dipercayakan kepada kita secara sempurna. Sikap itu pula yang memasrahkan segala daya upaya kita pada penyelanggaran Tuhan. Manusia memang tak pernah sempurna, tetapi hal-hal yang baik akan terjadi jika kita membiarkan Tuhan hadir dalam setiap usaha kita. Pelayanan kita kepada sesama haruslah diletakan dalam lingkup pelayanan kita kepada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar