Sumber: majalah pendalaman Kitab Suci Vol.23,No.1, Januari-Februari 2008
Pada akhir masa Natal ini, kita berjumpa dengan sebuah perikop yang tidak asing bagi kita, sebuah perikop tentang orang-orang majus dari Timur. Kisah orang-orang majus ini berjalan seiring dengan kisah tentang sikap Herodes dan orang-orang di dekatnya, Kita mungkin kagum dengan sosok orang-orang majus yang datang dari jauh untuk bertemu dengan Yesus. Nah, setelah membaca perikop ini, kita bisa diharapkan lebih kagum lagi. Kenapa? Karena ternyata orang-orang majus tersebut adalah teladan dalam kepasrahan terhadap bimbingan Allah bagi manusia.
Kontras dengan itu adalah sikap imam-imam kepala serta ahli-ahli Taurat. Meskipun memiliki berbagai ”perangkat” untuk mengerti karya Tuhan, ternyata mereka juga tak paham. Perangkat itu adalah Kitab Suci yang berisi berbagai nubuatan para nabi. Di pihak Herodes, ketakutan akan kehilangan kuasa membuatnya betul-betul buta terhadap karya Tuhan.
Matius 2:1-1------------------------------------------------------
1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
2 dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
5 Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia."
9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
___________________________________
Kisah Matius yang terkenal ini dapat dibagi sebagai berikut:
- Ayat 1-2: Bagian pembukaan yang berisi informasi tentang tempat kelahiran. Yesus dan kedatangan orang majus.
- Ayat 3-6: Reaksi Herodes terhadap berita yang dibawa orang-orang majus.
- Ayat 7-8: Gambaran Matius tentang Herodes yang munafik dan cara yang ditempuhnya unutk mencapai tujuan jahatnya.
- Ayat 9-11: Puncak dari perikop ini yang mengisahkan perjumpaan orang-orang majus dengan bayi yang baur lahir itu, serta sikap para majus ketika berhadapan dengan-Nya.
Ulasan Teks
Orang-orang majus dan Herodes
Matius perlu menegaskan bahwa Betlehem yang ia maksud adalah Betlehem yang di Yudea. Bukan saja karena dalam Yos. 19:5 ada Betlehem di Galilea, tetapi karena satu hal penting; raja orang Yahudi (ay.2) itu dilahirkan di tanah Yude dan kelak akan wafat juga di tanah Yudea. Kemunculan para majus pun tidak diceritakan secara detail. Kedatangan mereka ke Yerusalem disebabkan oleh karena mereka telah melihat bintang raja itu. Pada zaman dahulu, kelahiran seorang raja selalu ditandai dengan munculnya ”bintang” dilangit. Yang hendak ditonjolkan oleh Matius adalah kenyataan bahwa orang-orang majus tersebut berasal dari bangsa kafir. Hal ini tampak dari pertanyaan mereka yang mencari ”raja orang Yahudi” (ay.2), bukan ”raja orang Israel”.
Orang-orang dari bangsa kafir ini ternyata membawa suatu berita yang menggemparkan bagi Herodes dan seluruh Yerusalem. Sikap ini mengantisipasi penolakan Herodes dan Yerusalem terhadap raja yang baru saja lahir. Bukan tanpa alasan Matius menggambarkan bahwa orang-orang Yerusalem dan Herodes sama-sama terkejut. Mestinya, sebagai umat yang sedang menantikan Mesias, berita tentang kelahiran raja Yahudi itu menggembirakan. Namun, bagi Matius, Yerusalem adalah kota tempat sengsara dan wafat Yesus. Orang-orangnya adalah mereka yang akan berkata, ”Biarlah darah-Nya ditanggung atas kami dan atas anak-anak kami!”. (27:25). Orang-orang majus, orang-orang yang disebut kafir, ternyata jauh lebih mengenal makna dari peristiwa kelahiran Yesus. Mereka menyebut-Nya ”raja orang Yahudi”.
Maksud kedatangan mereka pun sangat jelas, yaitu ”untuk menyembah Dia”.
Herodes khawatir
Mendengar berita dari orang majus itu, Herodes segera mengumpulkan semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi untuk dimintai keterangan. Di masa mendatang, musuh-musuh Yesus adalah orang-orang yang menjadi saksi kelahiran-Nya sebagai Mesias itu. Imam-imam kepala adalah keluarga imam yang paling berpengaruh. Mereka membawahi dua puluh empat rombongan imam yang bertugas menjaga Bait Allah secara bergiliran. Sementara itu, para ahli Taurat adalah para penafsir resmi kitab Taurat. Mereka adalah orang-orang penting bangsa Yahudi. Para ahli tersebut menjawab pertanyaan raja dengan kutipan dari nubuat Mikha (Mi. 5:1) yang dikombinasikan oleh Matius dengan 2Sam. 5:2 (tetapi tidak persis sama dengan teks Perjanjian Lama). Para Ahli memberitahu Herodes sebuah nubuat tentang Betlehem di tanah Yudea.
Orang Majus dari Timur
Orang majus yang dimaksud tampaknya menunjuk pada ahli-ahli astrologi Persia yang biasanya juga menjadi imam Zoroastrianisme. Keahlian mereka yang lain adalah kemampuan menafsirkan mimpi dan juga sebagai tabib
Mereka tahu bahwa nubuat itu perihal seorang Mesias yang telah dinanti-nantikan, yang akan menggembalakan umat Israel. Namun, mereka tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka itu. Mereka malah menjadi sekutu Herodes!
Matius kemudian melanjutkan kisahnya dengan sebuah gambaran tentang Herodes yang munafik. Setelah mengorek informasi yang dimiliki oleh orang-orang majus tersebut. Kali ini maksudnya agar ia dapat menghitung dengan tepat usia bayi yang baru lahir tersebut (Matius mengantisipasi kejadian mengerikan yang ditimpakan Herodes kepada bayi-bayi Israel;2:16-18). Herodes meminta orang-orang majus agar kembali kepadanya dengan tujuan agar ia juga ”datang menyembah Dia” (ay. 8, mengulangi kata-kata orang majus dalam ay.2). Dengan kalimat itu, tercipta dasar bagi ay.12: Herodes berniat untuk melibatkan orang-orang majus tersebut dalam permainannya, tapi niat jahatnya itu digagalkan oleh intervensi Allah.
Dengan bimbingan bintang, orang-orang majus itu pun dapat sampai ketempat ”anak itu bersama Maria,ibu-Nya”. Bintang di sini dapat dipahami sebagi bimbingan Tuhan bagi umat-Nya (mengingatkan pada tiang api dan awan yang membimbing umat Israel, pada peristiwa keluaran). Mereka sujud dan menyembah-Nya. Sikap menyembah yang ditujukan oleh orang-orang majus memperlihatkan kepada kita betapa agungnya Yesus Kristus, anak Daud (1:1), Anak Allah (bdk 1:21;2:15), dan sang Imanuel. Tak lupa mereka ”membuka tempat harta bendanya dan memberikan persembahan kepada-Nya” (ay.11). Persembahan dari para majus adalah barang-barang yang langka di Yerusalem. Ketiga barang itu- emas, dupa, dan mur- adalah barang-barang bernilai tinggi. Hal ini menunjukan bahwa orang-orang majus itu adalah orang penting di daerahnya. Mereka memberi penghormatan tertinggi dan hadiah yang tak ternilai bagi seorang raja yang telah mereka sadari kebesaran-Nya.
Pusat perhatian Matius dalam perikop ini adalah iman dan kepercayaan yang dimilikai oleh orang-orang majus. Betap tidak, mereka-yang tidak memiliki tradisi tertulis yang menyatakan tentang kedatangan seorang Mesias sebagaimana dimiliki oleh orang Israel- mau datang ke Yerusalem untuk mencari orang yang mereka sebut sebagai ”raja orang Yahudi”.
Imam mereka lahir dari pengetahuan mereka. Ilmu yang mereka miliki membuat mereka percaya bahwa seorang raja yang besar telah lahir. Imam mereka pun tampak dari usaha mereka untuk menemui bayi yang baru lahir itu. Usaha mereka memuncak dalam sikap yang mereka perlihatkan ketika telah bertemu dengan sang Raja.
Mereka menyembah Dia dan mempersembahkan hadiah terbaik yang mereka miliki. Bahasa yang digunakan oleh Matius, seperti kata ”menyembah (proskuneO)”, memberikan sedikit petunjuk pada kita bahwa orang-orang majus tersebut mengakui Yesus, bukan hanya sebagai anak Daud, tetapi juga sebagai Anak Allah. Mungkin banyak pertanyaan muncul dalam benak kita; Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak dijelaskan agamanya itu dapat membuat pengakuan yang demikian? Dari mana iman mereka itu?
Sebelum menjawab, mari kita lihat kontras dengan sikap Herodes, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan seluruh penduduk Yerusalem. Tentang Herodes, bagi kita sudah jelas. Sementara itu, dengan pengetahuan mereka miliki, semestinya imam-imam kepala dan ahli-hali Taurat lebih paham tentang Mesias. Namun ternyata mereka hanya pandai berbicara tentang Mesias. Pada akhirnya, sikap mereka tak jauh berbeda dengan Herodes. Penduduk Yerusalem? Kita telah tahu gambaran Matius tentang sikap mereka terhadap kelahiran ”raja bangsa Yahudi” itu. Orang-orang yang memiliki Kitab Suci ini ternyata hanya sibuk dengan pandangan-pandangan mereka saja. Mereka tidak bergerak. Agama atau pemahaman mereka tentang agama juga tak mampu menggerakan mereka. Apakah agama orang-orang majus itu? Tidak jelas.
Perlu ditegaskan pula, imam yang mereka miliki bukan semata-mata karena pengetahuan mereka, tetapi lebih pada penyerahan diri mereka kepada bimbingan Tuhan. Mereka mengandalkan bimbingan Tuhan yang hadir lewat pengetahuan yang mereka miliki. Maka dari itu, bukan agama atau pengetahuanlah yang dapat menggerakkan kita, tapi penyerahan diri kita kepada bimbingan-Nya. Dan, bimbingan itu datang dengan cara yang Tuhan inginkan, bukan yang kita damba-dambakan. Untuk itu, sikap yang dituntut dari kita adalah keterbukaan. Orang majus telah sujud dihadapan Yesus ketika Ia masih bayi. Para rasul dan pengikut-Nya baru melakukan menjelang Yesus naik kesurga (28:19).
Satu hal yang dapat ditambahkan ketika kita merenungkan perikop ini; penolakan terhadap Yesus sudah terjadi sejak Ia masih bayi. Hal ini akan terus dialami-Nya sepanjang hidup dan karya-Nya.
2 komentar:
salam
aku cuma mau tanya apakah postingan dalam blog ini semuanya tulisan anda. atau anda hanya copy-paste? isinya bagus, sangat informatif.
gentole
Sesuai tujuan blog ini dibuat, saya hanya menyampaikan beberapa informasi yang menurut pribadi saya terbaik dan saya sortir , baik itu dari majalah, buku, dari internet yang bisa dimuat diblog ini dan agar bisa dinikmati oleh orang banyak yang mungkin tidak berlangganan majalah tersebut, tidak terkecuali teman-teman non Kristiani, kalau mungkin bahan-bahan yang saya tampilkan disini berguna buat yang membaca.
hanya Artikel debat saja yang saya tulis secara pribadi dan saya ambil dari berbagai sumber.
Tuhan Memberkati
Posting Komentar